Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Suku Tolaki | Salah Satu Suku Bangsa di Pulau Sulawesi

 sumber gambar by  Asmaidar Bidan Muda on flickr.com

Suku Tolaki merupakan suku yang tinggal di Kabupaten Kendari dan Konawe di Sulawesi Tenggara. Berdasarkan cerita rakyat, zaman dahulu ada sebuah kerajaan bernama Kerajaan Konawe dengan raja bernama Haluoleo. Nah, dari orang-orang kerajaan ini suku Tolaki berasal.
 
Di era-era sebelumnya, orang Tolaki adalah sebuah kelompok masyarakat yang nomaden. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dan hidup dari hasil buruan atau mencari tempat baru untuk membuka ladang.
 
Pada dasarnya, orang Tolaki yakin bahwa nenek moyang mereka itu berasal dari sekitar daratan Cina, yakni dari Yunnan dan kemudian bermigrasi ke tempat yang sekarang ditempati. 

Dalam tradisi orang Tolaki, ada sebuah petunjuk bahwa penghuni daratan Sulawesi Tenggara yang pertama adalah Toono Peiku (Ndoka). Penghuni pertama ini hidup di dalam gua-gua dan sekam adalah makanannya.
 
Pada umumnya, orang Tolaki menyebut dirinya sebagai Tolahianga yang berarti “orang dari langit”, yakni dari Cina. Dengan demikian, istilah “Hiu” di dalam bahasa Cina yang artinya “langit” dikaitkan dengan kata Heo (Oheo) di dalam bahasa Tolaki yang artinya ‘terdampar’ atau ‘ikut pergi ke langit’.
 
Mayoritas orang Tolaki memeluk agama Islam yang telah berkembang di daerah tersebut sejak beberapa abad lalu. Orang-orang Tolaki dikenal sebagai pemeluk agama Islam yang sangat taat. 

Sementara itu, bahasa keseharian dari orang Tolaki adalah bahasa Tolaki yang merupakan cabang dari bahasa Austronesia dan masih berdekatan dengan bahasa Mekongga.
 
Dalam hal ini, budaya dan juga bahasa Tolaki banyak mempunyai persamaan dengan budaya serta bahasa Mekongga. Kemungkinan besar orang Tolaki dengan suku Mekongga masih memiliki tali kekerabatan dari sejarah asal mula di masa lalu.

Sekilas Cerita Tentang Suku Tolaki

Suku Tolaki adalah sebuah komunitas masyarakat yang mendiami  Pulau Sulawesi di sebelah Tenggara persisnya di Kota Kendari serta Konawe. 

Bila ditilik dari garis ras atau keturunan, orang Tolaki diduga datang dari daerah Yunan bagian Selatan, namun sudah bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat setempat.
 
Mayoritas orang Tolaki memiliki mata pencaharian sebagai petani dan mereka dikenal sebagai petani yang ulet dan rajin. Selain itu mereka juga punya semangat gotong royong yang tinggi. 

Kata Tolaki sendiri memiliki arti jantan (maskulin). Sedangkan orang Tolaki menyebut dirinya Tolohianga yang maksudnya adalah orang yang datang dari langit.

Budaya Suku Tolaki

Pada zaman dahulu suku atau orang Tolaki yang merupakan bagian dari Konawe, sebuah kerajaan yang berada di wilayah Unaaha menetapkan suatu aturan yang dinamakan Siwole Mbatohu. Ini diperkirakan terjadi pada sekitar tahun 1602 sampai dengan 1666 masehi.
 
Untuk kehidupan bermasyarakatnya, orang Tolaki mempunyai simbol budaya yang membuat mereka bisa bersatu padu untuk mengatasi berbagai macam persoalan yang muncul. 

Simbol ini dinamakan Kalo Sara yang dimunculkan dengan tujuan untuk menciptakan masyarakat yang berbudi luhur dan mau menjaga ketentraman dan kesejahteraan secara bersama-sama dan bisa bergaul secara akrab dengan anggota masyarakat yang lain.
 
Dalam hubungan antar anggota masyarakat ini, terdapat unsur-unsur yang mengandung nilai filsafat tinggi. Mereka menjadikannya sebagai tongkat pegangan untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
 
Adapun jenis dari budaya hasil karya atau cipta yang punya nilai sosial sangat tinggi ini antara lain:

1. O’sara
 
Yaitu mengajarkan kepada setiap anggota Suku Tolaki untuk selalu mentaati segala keputusan yang dikeluarkan oleh adat dengan tujuan untuk mengajak masyarakat agar mau menciptakan rasa damai dan cinta di kehidupan mereka. Terutama ketika sedang bermasalah atau punya sengketa dengan anggota masyarakat yang lain.

2. Kohanu
 
Atau sering juga disebut dengan budaya malu. Merupakan sistem pertahanan moral bagi diri sendiri. Misalnya ada orang yang dikatakan malas bekerja. Maka selanjutnya mereka menerapkan budaya kohanu ini dengan cara lebih tekun dan rajin dalam bekerja, sehingga sebutan sebagai pemalas akan hilang dari dirinya, berganti dengan sebutan pekerja keras yang rajin dan tekun.
 
Secara tidak langsung budaya ini mengajak setiap orang untuk selalu memaksimalkan tenaga maupun pikiran yang dimilikinya untuk memajukan dia sendiri atau anggota suku yang lain.

3. Merau
 
Yaitu budaya yang mengajak orang untuk selalu mengedepankan sikap sopan dan santun dalam pergaulan. Juga mau memberikan rasa hormat bagi sesama anggota kelompok Tolaki maupun orang lain.

4. Samaturu
 
Merupakan salah satu budaya yang mengutamakan hidup untuk selalu menjalin persatuan, suka menolong orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan dengan senang hati. Ini juga merupakan wujud dari gotong royong yang menjadi pandangan hidup utama dari orang Tolaki.

5. Taa Ehe Tinua-Tuay
 
Merupakan ajakan untuk selalu merasa bangga karena menjadi bagian dari masyarakat Tolaki. Sesungguhnya budaya ini menjadi bagian dari Kohanu. Namun karena adanya suatu perbedaan yang bersifat mengutamakan kemandirian maka budaya yang satu ini selanjutnya dipisah menjadi budaya sendiri.

Kearifan Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara

Sulawesi Tenggara mempunyai banyak desa dengan kearifan lokal yang sangat menarik. Salah satu desa tersebut adalah Desa Toli-toli yang berada di Kabupaten Konawe dan dihuni oleh suku bernama Tolaki. 

Di sini ada banyak kearifan lokal seperti konservasi hewan langka, mencoba berbagai kuliner khas, sampai berburu hewan.
 
Di muka bumi ini, jumlah spesies yang terancam semakin meningkat saja. Hal ini tentu saja sangat berhubungan juga dengan meningkatnya jumlah manusia. 

Oleh sebab itulah, ada banyak sekali gerakan konservasi yang dilakukan untuk menyelamatkan semua spesies terancam tersebut. salah satu konservasi tersebut dilakukan oleh badan konservasi di Desa Toli-toli, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
 
Di tempat inilah, berdiri badan konservasi yang berusaha semaksimal mungkin melestarikan tridacna gigas atau kima. Kima adalah hewan lunak bercangkang yang tinggal di substrat perairan laut. Saat berkunjung ke sana, Anda akan ditemani oleh badan konservasi untuk melihat hewan tersebut secara langsung. 

Hewan ini sering diburu untuk dikonsumsi dagingnya dan juga diambil cangkangnya untuk bahan produk-produk kerajinan. Oleh sebab itulah, melestarikan hewan yang terancam punah ini sangat perlu dilakukan sebelum terlambat.
 
Selain itu, suku Tolaki pun masin menyimpan baik tradisi sehari-hari yang unik lainnya seperti menangkap ayam hutan dengan alat kati. Untuk dapat menangkapnya, seseorang harus menjelajahi rimbunnya hutan Konawe terlebih dahulu.
 
Ada juga makanan pokok yang cukup dikenal di Indonesia bagian timur, yaitu sagu. Di Kabupaten Konawe pun, makanan pokok bernama sagu ini masih sering dikonsumsi. 

Selain enak disantap, sagu ini mempunyai banyak fungsi. Daging batang sagu bermanfaat untuk bahan makanan yang kaya akan karbohidrat. 

Selain itu, kulit batangnya sering dijadikan tikar, sedangkan bagian daunnya dimanfaatkan untuk membuat atap rumah. Sagu memang benar-benar banyak manfaatnya, bukan?

Budaya Seni Suku Tolaki

Orang-orang Tolaki mempunyai banyak budaya seni, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Tari Mondotambe
  • Tari Lulo
  • Tari Mekindohosi
  • Tari Moana
  • Musik bambu

Sementara itu, upacara adat yang cukup terkenal dari orang Tolaki yaitu Upacara Adat Mosehe. Upacara adat ini adalah salah satu jenis upacara ritual yang bertujuan menolak munculnya malapetaka, sebab sudah melakukan pelanggaran, baik itu dilakukan secara sengaja atupun tidak sengaja.
 
Itulah ulasan seputar suku Tolaki. Semoga bermanfaat!

Mas Pujakusuma
Mas Pujakusuma "Visi Tanpa Eksekusi Adalah Halusinasi" - Thomas Alva Edison

Posting Komentar untuk "Suku Tolaki | Salah Satu Suku Bangsa di Pulau Sulawesi"