Suku Dayak Wehea | Mengenal Asal Usul dan Tradisi Suku Dayak Wehea
Suku Wehea merupakan suku yang yang tinggal di Kecamatan Muara Wahau yang tersebar di 6 desa. Kepala adat yang ada di suku ini dinamakan Ledjie Taq. Suku ini sangat peduli dengan kelestarian alamnya, yaitu dengan menjaga hutan lindung Wehea.
Ada deretan kata yang berasal dari bahasa Wehea yaitu “Keldung Laas Wehea long Skung Metgueen”. Kata tersebut mempunyai makna "aturan untuk perlindungan serta pemanfaatan yang terbatas dari hutan Wehea“. Kepala adat serta tokoh-tokoh adat dari Wehea telah membuat aturan hutan tersebut dari tahun 2005.
Aturan tersebut membuat 38.000 hektar hutan di sini resmi menjadi hutan lindung yang oleh masyarakat asli Wehea harus dijaga dan dilestarikan. Desa yang paling banyak dihuni oleh suku asli wehea ini, yaitu Nehes Liah Bing.
Suku Wehea ini adalah suku yang paling tua di wilayah aliran sungai Wehea. Sungai Wehea ini lebih dikenal dengan nama Sungai Wahau. Penamaan ini sendiri terjadi karena banyak orang luar yang sulit mengucapkan “Wehea”.
Asal Usul Suku Dayak Wehea
Berdasarkan asal usul yang ada di masyarakat, Nehas Liah Bing ini lebih suka untuk memanggil dirinya sendiri sebagai Suku Dayak Wehea. Berdasarkan cerita kepala adat dari desa ini, disebutkan bahwa Ledjie taq berasal dari wilayah Cina Daratan.
Ketika dalam perjalanan menuju ke wilayah Malaysia, sebagian dari rombongan masyarakat tersebut memilih untuk singgah sebentar atau bahkan menetap ke daerah Apau Kayan.
Lalu mereka menghasilkan anak dan juga cucu yang membuat suatu kelompok atau komunitas sendiri. Namun, seiring perkembangan waktu, dalam komunitas ini terjadi perkelahian antar saudara sebagai wujud perebutan kekuasaan. Perang antar saudara menyebabkan komunitas ini pecah menjadi dua kelompok.
Satu kelompok ada yang memilih untuk melarikan diri supaya mendapatkan tempat tinggal baru dan kekuasaan sendiri. Kelompok tersebut akhirnya tiba di kawasan wilayah dari gunung kombeng. Mereka menjadikan wilayah tersebut untuk tempat tinggal mereka yang baru.
Lalu, dalam perkembangannya kelompok ini secara bertahap pindah ke Sungai Wahau, yaitu hulu “Long Mesaq Teng. Akan tetapi ada juga sebagian dari anggota kelompok tersebut yang memilih untuk kembali ke arah hilir dan tinggal di tempat tersebut.
Tempat yang sekarang mereka jadikan sebagai tempat tinggal bernama kampung Nehas Liah Bing. Nehas sendiri mempunyai arti pasir sementara Liah Bing merupakan nama belakang dari orang yang pertama kali menjadikan daerah tersebut menjadi kampung, yakni Boq Liah Bing.
Tradisi Lomplai
Tradisi ini merupakan tradisi pesta panen yang berasal dari kebudayaan suku asli Wehea ini. Tradisi ini diisi dengan berbagai rangkaian ritual yang dilakukan oleh masyarakat suku asli Wehea yang tinggal di wilayah Kalimantan Timur.
Tradisi ini bisa dibilang unik, namun juga terasa mistis. Hal inilah yang membuat para wisatawan tertarik dengan suku asli Wehea ini.
Ketika sang fajar sudah mulai menyingsing, kesibukan dapat terlihat dengan jelas di berbagai pelosok dari Desa Long Wehea di Kalimantan Timur. Rumah-rumah panggung yang berderetan bagaikan semangat pagi yang membuat terbangun dari tidur.
Semangat dalam menyambut acara puncak dari ritual Lomplai atau pesta panen. Memang para masyarakat dari suku asli Wehea sangat menantikan acara tradisi Lomplai ini. Kesibukan yang mereka jalani pun disertai dengan rasa kebahagiaan dalam rangka menyiapkan acara pesta panen tersebut.
Ketika acara dari pesta Lomplai ini berlangsung tamu-tamu yang hadir bukan hanya dari kampung tersebut melainkan dari berbagai kampung yang ada.
Setiap anggota masyarakat yang ada saling berlomba dalam rangka menyambut para tamu, kerabat maupun orang-orang yang ingin menonton upacara pesta panen tersebut.
Ketika pagi tiba semua warga yang ada pasti telah diselimuti berbagai kegiatan yang membuat mereka sibuk. Ketika orang-orang yang berasal dari luar kampung berdatangan maka akan terdengar teriakan yang menggunakan bahasa Wehea untuk memanggil seluruh warga.
Persiapan untuk melakukan ritual Lomplai ini telah selesai dipersiapkan. Di sekitar Sungai Wehea terlihat beberapa perahu yang sengaja ditepikan.
Ritual yang pertama siap untuk dilakukan sebagai awal dari tradisi ini. Tahap pertama adalah acara yang akan diselenggarakan sebelum mencapai acara puncak yang disebut dengan Seksiang.
Seksiang merupakan ritual dari suku asli Wehea yang merupakan perang-perangan yang dilakukan ketika telah sampai ke acara puncak dari pesta panen. Acara ini juga mewakili para pendahulu mereka yang mempunyai sikap sebagai kesatria.
Mereka secara berkelompok menuruni jembatan panjang serta titian yang arahnya menuju ke tepian sungai. Di tepian sungai tersebut merupakan tempat untuk perahu ditambatkan.
Peserta upacara dari ritual Lomplai ini menggunakan pakaian tradisional yang disertai dengan Mandau. Mandau merupakan senjata yang sejenis perisai atau parang. Lalu, peserta secara bergantian menaiki perahu yang mengantarkan mereka ke hulu sungai.
Secara perlahan namun pasti dayung itu mulai dikayuh. Ada banyak perahu yang berlomba untuk mencapai hulu sungai yang terletak pada sebuah tanjung. Mereka dituntut untuk mengambil batang-batang seperti rumput gajah yang dikenal dengan nama weheang.
Namun keriuhan bukan hanya berasal dari perlombaan tersebut melainkan dari teriakan para suku asli Wehea yang menjadi pelengkap di dalam tradisi Lomplai ini. Perlombaan semakin seru dengan mengisi perahu dengan tombak weheang.
Bayangan mengenai peperangan dapat terbayang dalam muka para pemuda dari suku wehea ini. Sesaat lagi mereka akan menyajikan sesuatu dari tradisi dari nenek moyang mereka yang terdahulu.
Semuanya telah siap melakukan perang. Mereka mengayuh perahu menuju bagian tengah sungai disertai teriakan-teriakan sekaligus mencari tantangan untuk memulai ritual.
Mereka berkompetisi untuk menunjukan siapakah yang paling kuat di antara mereka. Sungai Wehea pun berubah menjadi medan perang. Puluhan tombak Weheang seolah beterbangan mencari sasaran.
Para wisatawan yang hadir untuk menyaksikan tradisi ini pastinya menunggu-nunggu momen tersebut. Mereka menyaksikannya dari jembatan kampung dan tepi sungai.
Para masyarakat serta wisatawan berbaur menjadi satu untuk menonton aksi dari para pemuda dalam ketangkasan. Mereka akan melakukan lemparan tombak weheang.
Akan tetapi dari ritual panen raya ini tidak ada kata menang maupun kalah. Setelah pelemparan tombak weheang selesai mereka merapat ke bagian hilir kampung. Rasa lelah tercermin dari raut muka mereka sama seperti para pemuda terdahulu yang berperang.
Acara awal dari tradisi puncak telah dilakukan. Saat ini adalah waktunya untuk membersihkan diri yang melakukan ritual selanjutnya, yaitu ritual Peknai.
Ritual Peknai adalah acara siraman dan menggoreskan arang tepat pada bagian wajah semua warga serta wisatawan yang hadir dalam ritual tersebut.
Bila ritual awal telah semua dilakukan maka kini waktunya untuk beristirahat sejenak. Namun, walaupun sudah beristirahat, bagian wajah yang terkena goresan arang tidak boleh dibersihkan.
Kegembiraan terlihat dengan jelas menyelimuti semua orang yang hadir dalam tradisi Lomplai ini. Rumah-rumah yang ada di kampung tersebut menyediakan segala macam makanan yang bisa disantap oleh semua orang yang hadir.
Ada salah satu makanan yang menjadi menu wajib yang khas dalam ritual Lomplai, yaitu lemang atau pluq serta sambal psooh. Makanan ini merupakan daya tarik yang menggugah selera makan para pengunjung.
Setelah acara makan selesai, acara dilanjutkan dengan pemanggilan roh. Roh-roh ini dianggap berasal dari khayangan, tanah, dan air. Pemanggilan ini disertai dengan nyanyian dari para perempuan adat di Suku Wehea ini. Namun terkandung doa dan mantra di dalam nyanyian tersebut.
Memang tradisi dari suku wehea ini sangat unik dan masih mengandung unsur mistik. Namun inilah yang menjadikan Suku Wehea dikenal banyak orang.
Posting Komentar untuk "Suku Dayak Wehea | Mengenal Asal Usul dan Tradisi Suku Dayak Wehea"