Mengenal Lebih Dekat Suku Kubu di Pulau Sumatera
Suku Kubu disebut juga suku Anak Dalam (SAD). Suku Kubu merupakan salah satu suku bangsa yang populasinya minoritas di wilayah Sumatera, tepatnya di Sumatera selatan dan Provinsi Jambi.
Sebagian besar dari suku Anak Dalam ini tinggal di Provinsi Jambi. Jumlah penduduknya diperkirakan kurang lebih sekitar 200.000 orang.
Asal-usul Suku Kubu
Asal-usul mengenai sejarah suku Anak Dalam memang masih diselimuti dengan misteri, Bahkan, sampai dengan saat ini, belum ada yang bisa mengungkapkan dengan pasti mengenai asal-usul suku ini.
Memang ada cerita maupun teori yang isinya mengenai asal-usul mereka. Namun, ini bukan berlandaskan dengan catatan atau bukti otentik, melainkan hanya dari mulut ke mulut. Sejarah yang terkuak pun hanya sebagian kecil.
Berdasarkan tradisi lisan yang ada, suku Anak Dalam adalah orang Maalau yang tersesat lalu lari ke arah hutan rimba yang terletak di sekitar air hitam. Mereka lalu dikenal dengan nama Moyang Segayo.
Namun, tradisi lainnya mengatakan bahwa orang Kubu berasal dari Pagaruyung yang pindah ke wilayah Jambi. Pernyataan ini disertai dengan kesamaan adat antara suku Kubu dengan suku Minangkabau. Salah satu adat yang sama yaitu menggunakan sistem kekerabatan matrilineal.
Bila dilihat secara garis besar, di wilayah Jambi, orang Kubu tinggal di wilayah ekologis yang berbeda-beda, yaitu orang Kubu yang tinggal di Taman Nasional Bukit 30, wilayah selatan dari Provinsi Jambi, dan Taman Nasional Bukit 12. Dalam perjalanan hidupnya, mereka nomaden, yaitu tempat tinggal yang berpindah-pindah.
Kehidupan nomaden itu mereka lakukan untuk menghindari musuh sehingga musuh akan kesulitan mencari keberadaan mereka. Selain itu, untuk membuka ladang baru ke tempat yang lebih subur dan menghasilkan tumbuhan lainnya serta alasan berpindah ketika ada masyarakat yang meninggal.
Mata Pencaharian Suku Kubu
Untuk kebutuhan sehari-hari, mereka meramu dan berburu. Namun saat ini, sudah ada sebagian masyarakat asli Kubu yang mempunyai lahan karet serta lahan pertanian lainnya.
Sementara itu, kegiatan berburu yang dilakukan masyarakat kubu yaitu berburu kijang, rusa, labi-labi, ular, monyet, beruang, kera, babi, dan jenis unggas.
Saat melakukan kegiatan berburu, masyarakat Kubu membawa binatang anjing untuk membantunya mencari mangsa. Alat yang dipakai dalam perburuan yaitu parang serta tombak. Dalam perburuan, mereka juga mengenal sistem lainnya seperti jerat dan perangkap.
Kehidupan Suku Kubu
Kehidupan dari suku ini memang sangat mengkhawatirkan karena berkurangnya sumber daya alam. Selain itu, juga akibat adanya proses marginalisasi yang dilakukan oleh orang Melayu serta pemerintah yang ada di Sumatera Selatan dan Jambi.
Memang pada awalnya, suku Anak Dalam memilih animisme sebagai kepercayaannya. Namun sekarang, sudah ada masyarakat yang berpindah agama menjadi Islam.
Suku asli Kubu mengarungi perjalanan hidupnya dengan berbagai aturan, adat istiadat, serta norma. Berbagai aturan ini sesuai dengan adat budaya yang ada di suku asli Kubu.
Di wilayah suku ini dikenal istilah mengenai kelompok kekerabatan dan keluarga, contohnya keluarga kecil serta keluarga besar. Keluarga kecil terdiri atas suami istri serta anak yang belum menikah, sedangkan keluarga besar terdiri atas beberapa keluarga kecil yang asalnya dari pihak kerabat sang istri.
Bagi kaum laki-laki yang sudah menikah, maka harus memilih tempat tinggal dekat dengan lingkungan kerabat pihak istri. Jadi, dalam perjalanan hidupnya masih dalam kesatuan sosial di lingkungan yang sama pula.
Keluarga kecil masing-masing akan tinggal di pondok dengan jarak yang berdekatan satu sama lain. Biasanya, terdapat dua atau tiga pondok di setiap kelompoknya.
Selain itu, dalam kesehariannya, masyarakat asli Kubu mempunyai sistem kekerabatan yang berjenjang, yaitu Jenang, Menti, Mangku, Depati, dan tumenggung. Temenggung adalah jabatan yang berada di posisi paling atas.
Segala aturan yang telah dibuat oleh Temenggung harus dipatuhi oleh semua masyarakat. Bila ada yang berani melanggar aturan tersebut, akan dikenakan sanksi maupun hukuman sesuai dengan pelanggaran yang dia lakukan.
Fungsi yang ada pada Temenggung sangat penting, yaitu sebagai rajo atau pemimpin paling tinggi, penegak hukum yang akan menyelesaikan perkara, pemimpin dari acara upacara ritual, serta mempunyai kesaktian dan kemampuan yang tinggi dibandingkan yang lainnya.
Oleh karena itu, untuk menunjuk orang yang menduduki posisi sebagai Temenggung, latar belakang menjadi hal paling penting, yaitu kemampuan untuk melaksanakan tugas, memimpin, serta berdasarkan keturunan.
Berdasarkan berbagai proses penyesuaian diri dengan lingkungannya, suku asli Kubu memang mempunyai pengetahuan mengenai bahan alami untuk pengobatan yang berasal dari hewan maupun tumbuhan. Dengan panca inderanya, mereka mampu untuk melihat perbedaan antara tumbuhan tidak beracun dan tumbuhan beracun.
Selain itu, mereka juga mampu untuk mengolah tumbuhan tersebut sebagai obat alami. Memang dalam segi pengetahuan teknologi, masyarakat Kubu sangat minim. Akan tetapi, mereka mempunyai kemampuan untuk mendeteksi penyakit, cuaca, serta pandai dalam mencari jejak.
Memang suku asli Dayang menganut animisme. Kepercayaan mereka mengenai roh-roh halus memang sangat dipegang erat walaupun ada juga yang beragama Islam.
Masyarakat suku asli Kubu yakin bahwa segala hal yang mereka dapatkan, baik atau buruk, anugerah atau musibah, adalah semua yang dikehendaki oleh dewa-dewa tersebut.
Wujud persembahan serta penghargaan kepada para roh-roh leluhur mereka tunjukkan dengan melakukan upacara ritual yang disesuaikan dengan keinginan serta keperluan.
Bentuk dari upacara ritual ini salah satunya dikenal dengan sebutan Besale. Besale merupakan rangkaian tahap upacara ritual, yaitu upacara pengobatan.
Suku asli Kubu percaya bahwa segala macam penyakit yang ada di dalam kehidupannya merupakan wujud dari kemurkaan para roh leluhur atau dewa. Cara yang bisa dilakukan untuk penyembuhannya ialah memohon ampunan atas segala kesalahan yang telah diperbuat selama ini.
Berbagai peralatan yang dipakai untuk upacara pengobatan ini memang sangat sarat dengan berbagai simbol yang ada. Properti yang digunakan dalam upacara besale sangat sarat dengan simbol-simbol.
Rumah Adat Suku Kubu
Bangunan yang dipakai oleh orang asli Kubu untuk tinggal yaitu sebuah pondok yang dibuat dari kayu dan atapnya jerami. Karena suku ini belum mengenal paku, maka untuk menyambung antar bagian satu dengan bagian bangunan yang lainnya digunakan sistem ikat bahan rotan.
Rumah ini bentuknya seperti panggung. Tinggi dari rumah ini sekitar 1,2 meter. Lumbung terdapat pada bagian bawah rumah yang tujuannya untuk menyimpan padi hasil panen mereka.
Bila dilihat dari segi ukurannya, rumah ini berukuran sekitar 4 x 5 meter. Bangunan rumah ini ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan yang ada di keluarga tersebut. Di dalam keluarga besar, ada pondok atap yang dibuat untuk tempat duduk santai ataupun saat menerima tamu.
Cara Berpakaian Suku Kubu
Cara berpakaian dari suku asli Kubu memang beragam, yakni sebagai berikut:
1. Bagi masyarakat yang tinggal di hutan, ada yang memakai baju adat namun sesekali juga menggunakan baju, celana maupun sarung,
2. Orang yang tinggal di dekat desa lain atau masyarakat luar menggunakan pakaian yang sama dengan masyarakat lainnya.
3. Untuk yang tinggal di hutan namun nomaden, pakaiannya minim, yaitu hanya untuk menutupi bagian tubuh tertentu . Akan tetapi, kebiasaan yang ada juga menunjukkan bahwa suku asli Kubu tidak menggunakan pakaian sama sekali di wilayah pemukimannya.
Suku Kubu memang tinggal di pedalaman, tetapi hal itu bukan menjadi penghambat mereka di sisi pengetahuan alam. Pengetahuan yang mereka miliki tentang alam jauh lebih banyak dibandingkan kita yang sudah mengenal kecanggihan teknologi.
Posting Komentar untuk "Mengenal Lebih Dekat Suku Kubu di Pulau Sumatera"