Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Suku Kayan Salah Satu Suku Dayak di Kalimantan

sumber gambar flickr.com

Suku Kayan merupakan salah satu suku Dayak yang berasal dari kelompok rumpun kenyah-kayan-bahau dari Serawak. Ketika awal tiba di wilayah Kalimantan Timur mereka tinggal dan menetap di sekitar daerah aliran Sungai Kayan.

Namun suku ini tidak menetap terus di tempat tersebut. Hal ini dikarenakan sedang terjadi peperangan antara suku. Jadi, mereka mengungsi ke daerah lain yang lebih aman. 

Selain itu, perpindahan mereka juga dilakukan dalam rangka mencari lahan subur untuk bercocok tanam sehingga membantu kelangsungan hidup mereka.
 
Selama 300 tahun, para masyarakat Kayan tinggal di daerah aliran Sungai Kayan. Setelah itu, mereka melakukan imigrasi ke berbagai daerah lain supaya bisa menjalani kehidupan yang lebih baik lagi.

Sejak 1969 hingga sekarang, masyarakat Kayan tinggal di daerah Suku Wehea, yaitu di aliran Sungai Wahau. Berdasarkan persentase, ada sekitar 1,4% Suku Kayan dari seluruh jumlah penduduk yang ada di Kutai Barat.
 
Suku asli Kayan sendiri merupakan etnis minoritas Tibeto-Burman yang ada di Myanmar. Mereka lebih senang disebut sebagai orang Kayan atau Kayan. Suku ini memang kaya akan tradisi dan budaya. Budaya yang ada yaitu telinga besar, telinga panjang, dan cincin leher.
 
Suku ini juga terbagi menjadi beberapa sub kelompok, yaitu Kayaw, Kayan Kahki, Kayan Gebar, Kayan Kangan, Kayan Lahta, Kayan Ka Khaung (Gheko), dan Kayan Lahwi (Padaung). 

Perbedaan antar sub-kelompok tersebut terlihat dari pakaian tradisional yang mereka kenakan. Akan tetapi, ada satu tradisi yang hanya dimiliki oleh satu sub-suku berupa menggunakan cincin di bagian lehernya, yaitu suku Kayan Lahwi atau Padaung.

Suku Kayan dan Kerangkeng Leher

Memang ukuran kecantikan seseorang berbeda-beda. Ada yang melihat hanya dari segi fisiknya, tetapi ada juga yang dilihat dari kepribadiannya. Jadi, tidak ada takaran yang pasti untuk mengukur kecantikan seseorang.
 
Ada salah satu hal unik untuk mengukur standar kecantikan pada wanita di suku asli Kayan. Perbatasan antara Burma dan Thailand merupakan daerah terpencil yang diisi oleh beberapa suku minoritas, salah satunya suku Padaung atau Kayan.
 
Para wanita Kayan ini terdiri atas beberapa sub-suku. Untuk membedakannya, dapat dilihat dari pakaian adat yang merupakan ciri khas pada setiap sub-suku. 

Bukan hanya perbedaan pakaian, melainkan juga bahasa dan juga adat. Namun, keunikan yang sangat menonjol di antara sub-suku tersebut yaitu suku Padaung.
 
Suku Padaung ini terkenal dengan ciri khas yang unik ,yakni penggunaan kerangkeng leher atau neck ring. Kalung berbentuk spiral akan dililitkan di leher mereka. Neck ring yang dipakai terbuat dari tembaga kuning. Kalung tersebut selain sebagai aksesori, juga sebagai lambang kecantikan untuk seorang wanita.
 
Penggunaan neck ring sendiri dimulai pada saat berusia 5 tahun. Pada umumnya, lilitan yang digunakan pada usia tersebut hanya dua lilitan. Namun, dalam jangka waktu dua sampai dengan tiga tahun sekali, kalung kerangkeng ini akan ditambahkan lagi lilitannya dari 2 lilitan menjadi 4 lilitan.
 
Penambahan lilitan ini akan terjadi secara terus menerus. Dengan begitu, usia yang semakin tua akan terlihat dari penggunaan lilitan yang banyak di bagian leher wanita tersebut. 

Dengan bertambahnya lilitan tersebut, maka bentuk leher pun akan semakin panjang. Tulang leher akan menekan ke bagian tulang punggung. Secara tak langsung, leher pun akan bertambah panjang seperti leher jerapah.

Makna Lilitan Kalung

Pemakaian dari lilitan kalung tersebut dipercaya bukan hanya untuk menunjukkan kecantikan wanita, tetapi juga untuk membangun sexual dimorphism, daya tarik dalam hal seksual yang sangat disukai oleh para pria. Dua anggapan inilah yang membuat para wanita suku Padaung atau Kayang Lahwi tetap menjaga tradisi ini.
 
Selain itu, ada juga anggapan yang menyatakan bahwa kalung tembaga yang dililitkan tersebut menunjukkan perempuan seperti seekor naga. Naga yang dimaksud yaitu mempunyai sifat kuat, tetapi tetap indah. Naga bagi suku Padaung ini adalah binatang suci.
 
Sebenarnya, wanita Kayan bisa memahami makna yang ada pada penggunaan neck ring tersebut. Bagi mereka, apa pun risiko nantinya akan mereka terima, pemakaian lilitan kalung tembaga ini merupakan wujud dari rasa hormat mereka pada nenek moyang atas tradisi yang ada sejak dahulu kala.
 
Kebanggaan sangat dirasakan oleh para wanita suku Padaung ini bila lilitan kalung tersebut dipandang sebagai ciri khas yang ada dalam budaya mereka. 

Memang dalam kenyataannya, penggunaan lilitan kalung ini tidak terasa nyaman karena tercekik dengan lilitan tersebut. Contohnya dalam hal bernapas saja mereka mengalami kesulitan serta sulitnya melakukan aktivitas keseharian.
 
Akan tetapi, karena pemakaian lilitan kalung ini dipakai sejak usia 5 tahun, tentunya sudah menjadi hal yang biasa. Mereka sudah terbiasa melakukan segala hal dalam kehidupannya dengan memakai lilitan kalung tersebut.

Lilitan Kalung di Leher dan Dampaknya

Pada kenyataannya, pemakaian kalung dari tembaga yang dililitkan pada leher akan menyebabkan rusaknya clavicle, bukan memperpanjang leher. Memang leher akan bertambah panjang, namun itu pun karena lilitan dari kalung tersebut yang menarik secara paksa.
 
Akibat ini diketahui berdasarkan hasil X-ray yang menunjukan bahwa bagian dari tulang penyangga leher berubah bentuk. Perubahan bentuk ini membuat otot-otot yang ada tidak berfungsi secara maksimal. 

Jadi, penggunaan kalung dari tembaga ini bila dipakai selama berpuluh-puluh tahun kemudian dilepas akan berbahaya bagi wanita tersebut. Hal ini dikarenakan otot leher yang sudah lemah akibat penekanan dari lilitan kalung itu. Leher bukan hanya rentan patah, melainkan juga bisa menyebabkan kematian pada wanita tersebut.
 
Seiring dengan perkembangan zaman, bukan hanya mendatangkan perubahan di wilayah perkotaan, melainkan juga di daerah terpencil. 

Hal ini terbukti dari kehidupan para generasi muda di suku Padaung atau kayan ini yang meninggalkan tradisi lilitan kalung tersebut meskipun memang masih ada sebagian dari generasi muda lainnya yang menjalankan tradisi ini.
 
Di Thailand, banyak wanita yang mempunyai leher panjang seperti jerapah. Hal ini merupakan keunikan yang membuat para turis tertarik untuk melihatnya. 

Berbagai turis dari mancanegara banyak yang ingin menyaksikan atau melihat wanita tersebut secara langsung. Karena hal inilah, berbagai promosi di lakukan di Thailand. Desa-desa terpencil sekarang sudah dikenal oleh para turis karena keunikan tersebut.

Kepercayaan Suku Kayan

Agama yang ada di suku asli Kayan dikenal dengan Kan Khwan. Agama ini telah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak melakukan imigrasi pada saat zaman perunggu. 

Dalam Kan Khwan tersebut, orang Kayan mempunyai kepercayaan bahwa persatuan yang terjadi antara naga perempuan dan manusia laki-laki akan menghasilkan setengah malaikat.
 
Bahkan, di suku ini, terdapat berbagai festival mengenai keagamaan, salah satunya yaitu 3-day Kay Hein Bo festival. Festival ini merupakan wujud perayaan untuk memperingati keyakinan bahwa dewa telah menciptakan mereka. 

Acara utama yang ada di festival ini yaitu menanam pos kecil di tanah yang merupakan wujud penghormatan mereka terhadap dewa pencipta.
 
Pelaksanaan untuk festival ini yaitu pada bulan Maret akhir atau pada bulan April awal. Di dalam festival ini, mereka juga menunjukkan rasa syukur kepada dewa yang telah memberikan segala berkat di sepanjang tahun. Selain itu, juga untuk meminta ampun atas segala kesalahan yang selama ini mereka lakukan.
 
Festival ini dijadikan sebagai tempat bagi para suku asli Kayan untuk menjaga solidaritas satu sama lain. Festival ini sendiri dihadiri oleh orang-orang Kayan yang berasal dari berbagai desa.
 
Sekian artikel mengenai suku Kayan. Semoga bermanfaat!

Mas Pujakusuma
Mas Pujakusuma "Visi Tanpa Eksekusi Adalah Halusinasi" - Thomas Alva Edison

Posting Komentar untuk "Mengenal Suku Kayan Salah Satu Suku Dayak di Kalimantan"