Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Suku Banjar di Kalimantan Selatan

 sumber gambar by nasrudin ansori on flickr.com

Masyarakat suku Banjar bukan kelompok masyarakat yang muncul secara alami atau berasal dari satu keturunan. Suku Banjar ini adalah hasil dari konstruksi historis sosial dari suatu kelompok manusia yang menginginkan suatu komunitas tersendiri dari kaum-kaum yang ada di Pulau Kalimantan.
 
Etnik Banjar merupakan campuran dari berbagai kelompok etnik yang memiliki beragam asal usul dengan titik tolak pada proses Islamisasi yang dilakukan oleh Demak sebagai syarat berdirinya Kesultanan Banjar. 

Sebelum berdirinya Kesultanan Islam Banjar, kelompok tersebut belum bisa dikatakan sebagai sebuah kesatuan identitas suku atau agama, tapi lebih tepatnya kaum yang merujuk pada kawasan yang menjadi tempat tinggal.
 
Kelompok masyarakat ini memang terbentuk tidak secara alami (primordial), tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang cukup kompleks. 

Suku Banjar terbagi ke dalam tiga sub etnis berdasarkan teritorialnya dan unsur pembentuk suku berdasarkan perspektif kultural dan genetis yang menggambarkan masuknya penduduk pendatang ke wilayah penduduk asli Dayak.
 
Yang pertama adalah Banjar Pahuluan. Mereka memiliki campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok). 

Selanjutnya adalah Banjar Batang Banyu yang berasal dari campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok). 

Dan terakhir Banjar Kuala, yang terdiri atas campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok).

Suku Banjar di Berbagai Daerah

Etnik Banjar tersebar di berbagai daerah di Indonesia, tak hanya di Kalimantan, tetapi juga sampai ke Pulau Jawa. Berikut ini penyebaran masyarakat Banjar di Indonesia.

1. Kalimantan Timur

Etnik Banjar di Kalimantan Timur yang biasa disebut dengan suku Melayu ini adalah 15% dari populasi penduduk. Suku ini terdapat hampir di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur. Suku ini pun lebih banyak jumlahnya daripada suku Kutai dan suku Dayak di Kalimantan Timur. 

Kecamatan-kecamatan yang banyak etnik Banjarnya adalah Kecamatan Kenohan, Jempang, Samarinda Timur, Samarinda Barat, Tarakan, Balikpapan, dan di muara Sungai Kelay, Berau.
 
Etnik Banjar adalah 4,5% dari populasi Kabupaten Kutai Barat. Berdasarkan sensus pada 1930, suku ini ada di Kota Balikpapan (31,56%), Kota Tanjung Selor (35,70%), Kota Samarinda (54,93%), dan wilayah Kutai bagian Timur, tidak termasuk Kota Samarinda (33,09%).
 
Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) menuju ke Kaltim berlangsung pada 1565, yakni dilakukan oleh orang-orang Amuntai pimpinan Aria Manau dari Kerajaan Kuripan, termasuk dalam cikal bakal munculnya Kerajaan Sadurangas di daerah Paser. 

Selain itu, suku ini pun tersebar luas di daerah yang lain di Kalimantan Timur. Sementara itu, organisasi etnik Banjar di Kaltim (Kalimantan Timur) yaitu Kerukunan Bubuhan Banjar-Kalimantan Timur (KBB-KT).

2. Kalimantan Tengah

Etnik Banjar di Kalimantan Tengah biasa disebut dengan sebutan Banjar Melayu Pantai atau Banjar Dayak. Artinya, masyarakat  Banjar yang berada di daerah Dayak Besar (nama lama dari Kalimantan Tengah). 

Berdasarkan sensus penduduk pada 2000 lalu, suku ini berjumlah 24,20% dari populasi penduduk dan merupakan suku paling banyak di Kalimantan Tengah. 

Sebelum dilakukan pemekaran daerah pada 2000, suku ini tersebar di Kabupaten Kapuas (40,5%), Kotawaringin Timur (20,3%), Palangkaraya (27,64%, Barito Utara (2,56%), dan Barito Selatan (10,5%).
 
Sementara itu, jumlah etnis di Kalimantan Tengah berdasarkan sensus penduduk pada 2000 terdiri atas etnis Banjar (24,20%), Dayak Sampit (9,57%), Ngaju (18,02%), Bakumpai (7,51%), Katingan (3,34%), Maanyan (2,80%), Jawa (18,06%), Madura (3,46%), dan suku Melayu. 

Akan tetapi, jika semua suku Dayak tersebut digabungkan, yaitu Ngaju, Sampit, Maanyan, dan Bakumpai, jumlahnya bisa mencapai 37,90%.
 
Berdasarkan sensus penduduk pada 1930, penduduk Central Borneo (Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Barat) berjumlah sekitar 619.402, yaitu terdiri atas suku Dayak (63,49%), suku Banjar (5,95%), Bugis (1,09%), suku Melayu (26,64%), suku Jawa (2,51%), dan sisanya adalah suku lainnya.
 
Dari data tersebut, bisa disimpulkan bahwa etnis Banjar di Kalimantan Tengah sekarang ini adalah asimilasi etnis Banjar dengan suku Melayu (Kotawaringin) yang tinggal di pesisir barat Kalimantan Tengah. 

Etnis Banjar lebih banyak tinggal di pesisir timur Kalimantan Tengah. Berdasarkan sensus penduduk 1930, sekitar 50,28% penduduk Kota Kuala Kapuas adalah etnis Banjar.
 
Persentase suku Melayu dan Banjar mengalami penyusutan karena adanya peningkatan persentase suku-suku lainnya seperti suku Madura dan suku Jawa lewat migrasi. 

Pada 1930, di Kalsel (Kalimantan Selatan), terdapat juga sekitar 2.765 jiwa suku Melayu, yakni di Kota Tanjung berjumlah 1.253 jiwa dan di Banjarmasin berjumlah 1.512 jiwa. Suku tersebut juga diduga sudah menyatu ke dalam etnis Banjar.
 
Sementara itu, perkampungan etnis Banjar Kalimantan Tengah terdapat di daerah Kuala yang bermula di Sungai Mentaya, Kabupaten Kotawaringin Timur sampai ke Sungai Seruyan di Kabupaten Seruyan. Contohnya, Desa Tanjung Rangas dan juga Pematang Panjang. 

Migrasi suku ini (Banjar Kuala) ke Kalteng berlangsung di era pemerintahan Sultan Banjar IV, yakni Raja Maruhum atau dikenal dengan Sultan Musta’inbillah (1650 - 1672). Beliau sudah mengizinkan berdirinya Kerajaan Kotawaringin yang pada waktu itu dipimpin oleh raja pertama bernama Pangeran Dipati Anta-Kusuma.

3. Jawa Tengah

Diketahui bahwa penduduk Jawa berasal dari Hindustan serta Siam yang awalnya singgah di Nusa Kencana (Kalimantan). Sementara itu, di daratan Kota Rembang, berhasil ditemukan bangkai perahu kuno yang terbuat dari kayu ulin dan diperkirakan berasal dari Kalimantan Selatan.
 
Berdasarkan Hikayat Banjar (1663), bisa diketahui bahwa Sultan Demak sudah mengirim seribu pasukan dalam rangka membantu Pangeran Samudera berperang melawan Pangeran Tumenggung yang merupakan pamannya sendiri sekaligus sebagai penguasa terakhir Kerajaan Negara Daha. 

Akhirnya, kemenangan berhasil diraih oleh Pangeran Samudera (Sultan Banjarmasin ke satu), sedangkan Pangeran Tumenggung diizinkan tinggal di daerah Alay dengan jumlah penduduk sekitar seribu orang.
 
Selama peperangan tersebut berlangsung, ditangkap sekitar 40 orang Negara Daha, baik itu pria ataupun wanita, yang selanjutnya dibawa ke Tadunan dan Demak sebagai ganti dari 20 prajurit Demak yang telah gugur. Kejadian tersebut terjadi pada 1520 - 1526. 

Saat ini, etnis Banjar di Jawa Tengah hanya berjumlah 10.000 orang. Suku ini banyak bermukim di Kota Surakarta dan Kota Semarang. Awalnya, suku ini sebagian besar tinggal di Kampung Banjar yang masuk wilayah Kelurahan Dadapsari atau dikenal juga dengan sebutan Kampung Melayu.
 
Migrasi etnis Banjar ke Semarang terjadi sekitar akhir abad ke-19. Mereka tinggal di sebelah barat kali Semarang dan berdekatan dengan bekas Kelurahan Melayu Darat. Di daerah ini, entis Banjar menyatu dengan etnis lain seperti Melayu, Gujarat, Arab-Indonesia, Bugis, dan juga suku setempat.
 
Keunikan masyarakat Banjar di kampung ini yaitu mereka membuat rumah panggung (rumah ba-anjung) yang telah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. namun sayang, sebagian besar rumah tersebut mulai tergusur, sebab kondisinya telah tua atau karena faktor alam (rob dan air pasang) yang hampir menenggelamkan daerah ini.
 
Sementara itu, di Surakarta, etnis Banjar sebagian besar tinggal di Kelurahan Jayengan. Di sana, suku ini mempunyai sebuah yayasan bernama Darussalam yang berasal dari nama pesantren terkenal di Kota Martapura. Sebagian besar etnis Banjar di Jawa Tengah adalah generasi ke-5 keturunan Martapura, Kabupaten Banjar.
 
Tokoh-tokoh masyarakat Banjar di Jawa Tengah di antaranya adalah (alm) Drs. Rivai Yusuf yang berasal dari Martapura dan pernah menjabat sebagai Bupati Pemalang juga Kepala Dinas Kelistrikan Jawa Tengah. Beliau pun merupakan ketua Ikatan Keluarga Kalimantan kesatu yang saat ini dijabat oleh H. Akwan dari Kalbar.
 
Itulah ulasan seputar suku Banjar. Semoga bermanfaat!

Mas Pujakusuma
Mas Pujakusuma "Visi Tanpa Eksekusi Adalah Halusinasi" - Thomas Alva Edison

Posting Komentar untuk "Mengenal Suku Banjar di Kalimantan Selatan"