Marxisme sebagai Teori Kebudayaan Sosial
Karl Marx adalah seorang filsuf yang lahir di Jerman. Pemikirannya sangat luas, meliputi filsafat, kebudayaan, serta ekonomi politik. Di dalam teori sosial, ia digolongkan dengan Emile Durkheim serta Max Weber sebagai pendiri teori sosial klasik.
Sejak muda, Marx sudah memiliki perhatian yang luar biasa terhadap kebudayaan dan kehidupan sosial. Karya-karya filsuf tersebut diantaranya, Jerman Ideologi, Grundrisse, Kritik atas Ekonomi Politik, Communist Manifesto, hingga karya monumentalnya Das Kapital.
Namanya dicatat dalam penulis aliran politik, ideologi, juga sebagai aliran filsafat. Marxisme hingga kini masih dipelajari sebagai teori kebudayaan sosial.
Bagaimana kebudayaan ini terbentuk dalam pandangan Marx? Menurut Marx, manusia memahami hidup dan lingkungannya melalui kegiatan kerja produktif.
Zaman dahulu, orang dengan keterbatasan ilmu pengetahuan tinggal di suatu tempat secara berpindah-pindah, dan biasanya mereka tinggal di tepi-tepi sungai yang tanahnya subur.
Semakin lama, mereka semakin berpikir bagaimana caranya agar bisa hidup lebih baik. Akhirnya, mereka memutuskan untuk tinggal di suatu tempat tanpa berpindah-pindah seperti yang mereka lakukan sebelumnya.
Di tempat yang baru, mereka bertani, berkebun, maupun berburu. Semakin lama jumlah mereka semakin banyak, hingga–singkat kata– pada akhirnya terciptalah kebudayaan-kebudayaan besar seperti Mesir, Mesopotamia, Babilonia, atau kebudayaan Inca.
Kerja Produktif
Apa yang dimaksud dengan kerja produktif? Kerja produktif ini pertama diartikan sebagai aktualisasi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kedua, kerja bukan hanya menjelaskan bagaimana manusia memenuhi kebutuhannya, tetapi di dalam kerja, pengetahuan pun tercipta.
Misalnya, orang yang tinggal di gunung tidak tahu bagaimana caranya berlayar, orang yang tinggal di pantai tidak tahu bagaimana caranya berkebun, atau orang yang tinggal di pesisir sungai tidak tahu bagaimana caranya bertahan di gurun pasir.
Kerja, oleh karena itu, memiliki pengaruh besar dalam menciptakan kebudayaan manusia. Dan, tentunya dalam hal ini, pengetahuan manusia dibatasi oleh wilayah atau tempat tinggal di mana mereka berada.
Jadi, menurut Marx, yang paling berpengaruh dalam kehidupan sosial adalah produksi, yang meliputi kondisi produksi, sarana produksi, maupun hubungan produksi.
Yang bergerak dalam sejarah kebudayaan manusia adalah materi, dalam arti kegiatan ekonomi dan produksi. Ekonomi dan produksi tersebut dianggap sebagai basis yang utama dalam membangun kebudayaan. Teori Marx ini kemudian dikenal dengan sebutan "Materialisme Dialektika".
Kapitalisme
Di zaman sekarang, kapitalisme adalah sistem produksi yang sedang mendominasi dunia. Kapitalisme itu tidak lain bentuk kegiatan ekonomi yang tumbuh dari kurun waktu lama. Zaman dahulu, aktivitas perdagangan dilakukan secara terbatas dan dalam wilayah yang dekat - dekat saja.
Lalu, berkembang ke dalam bentuk perdagangan jarak jauh, hingga pada akhirnya muncullah kapitalisme sebagai cara menjalankan ekonomi. Perusahaan multinasional, bisnis yang tersebar di berbagai bidang, atau Bank Dunia merupakan wujud dari kapitalisme.
Pada intinya, Marx sebetulnya ingin menegaskan bahwa kebudayaan itu terbangun dari cara produksi manusia. Masih ingatkah Anda ketika di sekolah belajar sejarah tentang zaman perunggu, zaman logam, atau zaman merkantilisme?
Itu tidak lain adalah bentuk-bentuk corak kerja dan kegiatan produksi dari zaman ke zaman. Jadi, kegiatan ekonomi inilah yang mempengaruhi kebudayaan, politik, maupun kehidupan sosial lainnya.
Jika Anda merasa bingung namun tertarik untuk mempelajari Marxisme sebagai teori kebudayaan sosial, saya sarankan kepada Anda untuk membaca buku-buku pengantarnya terlebih dahulu. Setelah Anda merasa tidak ada kesulitan dalam memahaminya, baru deh baca karya aslinya.
Muara pada Marxis Sosiologi
Marxis sosiologi adalah cabang dari sosiologi yang mempromosikan penolakan dari ide kapitalisme dan berupaya memberikan antitesisnya yang didasarkan secara ilmiah pada prinsip-prinsip pemerataan kekayaan.
Pandangan politik dan sosiologis dari Marxisme itu sendiri telah digunakan oleh negara dengan model komunis seperti yang dipraktekkan oleh Uni Soviet dengan ideologi Marxisme-Leninisme nya. Pandangan ini untuk mempromosikan berbagai prinsip di mana Karl Marx sendiri mendukungnya.
Hal politis inilah yang membuat upaya dan cara penyebaran ide dari sosiologi Marxis semakin sulit, karena di negara-negara barat seperti Amerika Serikat, konsep ini sering dikaitkan dengan berbagai pandangan politik radikal.
Bangsa dengan kebijakan demokrasi sosial seperti Eropa sering memukul rata bahwa sosiologi Marxis adalah bentuk komunisme dalam segala penampakannya, dan dari sudut pandang lain biasanya dikategorikan sebagai bentuk materialisme historis.
Padahal Teori Konflik Biasa
Pendekatan reduksionis bisa menggambarkan dengan tepat pada inti dari apa yang sebenarnya di kejar oleh sosiologi Marxis sebenarnya, dan mendefinisikannya sebagai bentuk teori konflik.
Teori konflik adalah teori sosiologi yang menekankan gagasan bahwa kepemimpinan dan kemakmuran ekonomi muncul dari konflik langsung antara individu-individu untuk mendominasi dan mempengaruhi satu sama lain.
Hal ini seolah mendustakan prinsip dasar Marxisme itu sendiri, bagaimanapun, yang mempromosikan kesetaraan bagi kelas pekerja, yang lebih sesuai dengan teori konsensus.
Teori Konsensus sendiri bertentangan secara langsung dengan teori konflik dan lebih mempromosikan ide bahwa masyarakat bisa menjadi makmur ketika mereka mencapai konsensus tentang kebenaran mendasar.
Salah satu prinsip dasar Marxisme, , adalah gambaran dari perjuangan antara tenaga kerja dan kepentingan modal dalam ekonomi, yang sejalan dengan pendekatan teori konflik terhadap pertumbuhan budaya.
Ide Kiri
Ide kiri dalam kebudayaan sosial di mana studi sosiologi berbeda dalam sosiologi Marxis. adalah banyak orang tampaknya mengambil pendekatan yang terlalu harfiah. Meskipun belajar sosiologi dapat menjadi latihan akademis, menerapkan prinsip-prinsipnya di dunia nyata sendiri bisa menimbulkan masalah.
Beberapa sosiolog percaya bahwa sosiologi Marxis, pada kenyataannya, memiliki pendekatan terhadap aspirasi, murni ilmiah tentang bagaimana ekonomi kapitalis idealnya akan berfungsi. ]
Artinya sosiologi ini ingin secara langsung berhadapan dengan akar masalah utama ekonomi praksis, dan kritik terhadap kelemahan dalam sistem kapitalis saat ini. Tetapi bukan dan tidak menyodorkan model praktis yang dapat digunakan untuk memperbaikinya.
Bidang sosiologi juga melintasi banyak hambatan interdisipliner agar bisa saling melengkapi dan sosiologi Marxis dipandang sebagai yang terbaik bagi penjelasan interdisiplin tersebut melalui pemahaman tambahan yang diperoleh dalam ilmu ekonomi, ilmu politik, dan sejarah. Misalkan dalam Cultural Studies, atau dalam studi Postkolonialisme.
Keyakinan dasar sosiologi Marxis didasarkan pada materialisme sejarah. Materialisme sejara ini menyatakan bahwa semua ekspresi sosial manusia dan struktur, dari unit sosial dasar keluarga, karya seni, dan lembaga pemerintah, yang didirikan merujuk sepenuhnya pada kebutuhan ekonomi, dan secara langsung dipengaruhi oleh perjuangan kelas antara rakyat sendir.
Keyakinan ini dijabarkan ke dalam sosiologi Marxis untuk memasukkan ide-ide emansipasi kelas pekerja dan praksis pengetahuan ilmiah, atau penggunaan langsung untuk mendapatkan keuntungan populasi yang telah ada di masyarakat.
Teori kebudayaan sosial sebagaimana yang dipahami di dalam pemahaman sosiologi Marxis tersebut. Pada akhirnya merupakan proses adaptasi pada dunia yang cenderung merujuk pemenangnya, yang barangkali bisa dipukul rata sebagai kapitalisme.
Sehingga di dalamnya pula dikenal istilah hantu Marx, yang merujuk pada kemampuan orang menjadi komunis bilamana kapitalisme gagal memberikan kenyamanan pada orang yang melaksanakan prinsipnya. Karena pendapat marxisme sebagai antitesisnya kapitalisme.
Jadi, ketika kapitalisme runtuh, dunia tengah berada di sisi sebelah kiri jalan. Apakah itu benar benar terjadi? Tidak juga. Karena ide kiri sendiri, telah gagal di cobakan, dalam bentuk bersandingan dengan kapitalisme yang hidup.
Posting Komentar untuk "Marxisme sebagai Teori Kebudayaan Sosial"