Yuk Berkenalan dengan Suku Lampung
Kata Lampung berasal dari ungkapan ”anjak lambung” yang jika didefinisikan secara bebas berarti berasal dari ketinggian.
Memang kalau dirunut kepada asal-muasal nenek moyang suku Lampung, mereka pertama kali bermukim di daerah ketinggian Sekala Brak, di lereng Gunung Pesagi.
Suku Ulun Lampung atau orang Lampung menempati tidak hanya di Provinsi Lampung sekarang, melainkan juga di daerah Martapura, Kayu Agung, Muara Dua, Tanjung Raja dan Komering Ilir. Suku Ulun Lampung juga terdapat di daerah Merpas, provinsi Bengkulu dan di daerah Cikoneng, provinsi Banten.
Adat Istiadat Suku Lampung
Berbicara masalah adat-istiadat suku Lampung, maka ada dua masyarakat adat yaitu Lampung Saibatin dan Lampung Pepadun. Kedua masyarakat adat tersebut berbeda atau bertolak belakang satu sama lain.
Masyarakat adat Saibatin terkenal sebagai memegang teguh adat dengan nilai-nilai aristokrat yang kuat, sementara masyarakat adat Pepadun dinilai lebih demokratis.
Secara demografis, masyarakat adat Pepadun atau masyarakat Lampung pedalaman mendiami wilayah Kotabumi, Seputih Timur, Labuhan Maringgai, Kabung, Terbanggi dan Sukadana yang berada pada penguasaan adat Abung Siwo Mego.
Masyarakat adat ini juga mendiami wilayah Mesuji, Panaragan, Wiralaga, dan Menggala yang dalam penguasaan masyarakat adat Mego Pak Tulang Bawang.
Sementara itu, masyarakat adat Saibatin yang berada dalam pengawasan adat Pubian Telu Suku, mendiami wilayah-wilayah Tanjung Karang, Seputih Barat, Padang Ratu, Balau, Tegineneng dan Puguh.
Masyarakat adat Saibatin yang sering pula dikenal sebagai masyarakat adat pesisir mendiami sebagian besar wilayah pesisir. Masyarakat Adat Saibatin secara demografis sebagian mendiami wilayah pesisir pantai selatan, barat dan timur Lampung.
Masyarakat adat Saibatin ini terdiri dari masyarakat adat Paksi Pak Sekala Brak yang mendiami Lampung Barat, Keratuan Semaka mendiami wilayah Tanggamus, Keratuan Melinting berada di wilayah Lampung Timur, Keratuan Darah Putih mendiami wilayah pesisir Lampung Selatan, dan Keratuan Komering yang mendiami wilayah pesisir Komering di Provinsi Sumatera Selatan.
Suku Lampung - Kitab Kuntara Raja Niti
Kitab ini merupakan rujukan utama falsafah hidup Ulun Lampung, yang secara garis besar membahas lima pokok hidup antara lain:
1. Piil-Pusanggiri yang kurang lebih berarti bahwa masyarakat Ulun Lampung malu melakukan pekerjaan hina, baik menurut aturan agama maupun menurut penilaian masyarakat secara umum. Ini menyangkut harga diri Ulun Lampung.
2. Nengah-Nyampur. Masyarakat Ulun Lampung hidup secara bermasyarakat, turut aktif dalam kehidupan masyarakat pada umumnya dan menghindari sikap-sikap individualistis.
3. Masyarakat Ulun Lampung memegang teguh adat istiadat, termasuk gelar adat yang disandang masing-masing. Masyarakat Ulun Lampung akan senantiasa menjaga dan hidup sesuai dengan kepribadian berdasarkan gelar yang disandangnya.
Gelar yang disandang Ulun Lampung merupakan patokan atau rujukan untuk hidup bermasyarakat, termasuk bagaimana memelihara martabatnya. Inilah yang dinamakan adat Juluk-Adok.
4. Karena masyarakat Ulun Lampung secara umum punya pokok hidup nengah-nyampur, maka di mana pun berada, Ulun Lampung akan senantiasa giat bergotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya. Falsafah inilah yang dalam Kuntara Raja Niti disebut sebagai Sakai-Sambayan.
5. Selain watak nengah-nyampur yang artinya hidup bermasyarakat, masyarakat Ulun Lampung memegang falsafah Nemui-Nyimah atau menjalin silaturahmi dengan siapa saja dan bersikap ramah dalam menerima tamu.
Bahasa Suku Lampung
Rumpun bahasa Lampung merupakan sebuah kelompok bahasa yang dipakai oleh Ulun Lampung di Provinsi Lampung, di bagian selatan Palembangm serta di panti barat Banten.
Rumpun ini sendiri terdiri atas bahasa Komering, bahasa Lampung Api, dan bahasa Lampung Nyo. Kelompok tersebut adalah cabang khusus dari dalam rumpun bahasa Melayu Polinesia.
Di sisi lain, ada juga yang membagi rumpun bahasa Lampung ini ke dalam dua dialek.
Dialek pertama adalah dialek A yang dituturkan oleh ulun Pesisir Rajabasa, Melinting-Maringgai, Pesisir Krui, Pesisir Semaka, Kayu Agung, Belalu dan Ranau, Way Kanan, Komering, Sungkai, serta Pubian.
Kedua, dikenal dengan dialek O yang dituturkan oleh ulun Abung serta Menggala atau Tulangbawang yang beradat Lampung Pepadun.
Sementara itu, Dr Van Royen membagi rumpun bahasa Lampung ini ke dalam dua subdialek, yakni dialek Belalau atau disebut juga dialek Api dan dialek Abung atau disebut Nyo.
1. Dialek Belalau atau Dialek Api
Dialek ini terbagi lagi menjadi beberapa bagian, di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Bahasa Lampung Logat Belalu
Bahasa ini dipakai oleh etnis Lampung yang tinggal di Kabupaten Lampung Barat meliputi beberapa kecamatan seperti Batu Brak, Bukit, Ranau, Sukau, Suoh, Way Tenong, Sekincau, Sumber Jaya, dan Gedung Surian.
Selain itu, bahasa ini digunakan juga di Kabupaten Lampung Selatan seperti di Kecamatan Gedong Tataan, Kedondong, Pedada, Penengahan, Way Lima, dan daerah lainnya.
b. Bahasa Lampung Logat Krui
Bahasa ini dituturkan oleh orang Lampung yang tinggal di sekitar Pesisir Barat Lampung Barat seperti Kecamatan Pesisir Utara, Pesisir Tengah, Karya Penggawa, Pesisir Selatan, Ngaras, Lemong, dan Bengkunat.
c. Bahasa Lampung Logat Melinting
Bahasa ini banyak digunakan oleh masyarakat Lampung di Kabupaten Lampung Timur seperti di Kecamatan Jabung, Labuhan Maringgai, Way Jepara, dan Pugung.
d. Bahasa Lampung Logat Way Kanan
Bahasa ini biasa dipakai oleh masyarakat Lampung yang berada di Kabupaten Way Kanan, yaitu Kecamatan Baradatu, Blambangan Umpu, Pakuan Ratu, dan Bahuga.
e. Bahasa Lampung Logat Pubian
Bahasa ini dituturkan oleh orang Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Lampung Selatan seperti Tegineneng, Gedong Tataan, dan Natar.
Selain itu, dituturkan pula oleh orang-orang di Lampung Tengah (Kecamatan Padangratu dan Pubian) serta di Kota Bandar Lampung (Kecamatan Tanjung Karang Barat, Sukarame, dan Kedaton).
f. Bahasa Lampung Logat Sungkay
Bahasa ini dipakai masyarakat Lampung di Kabupaten Lampung Utara yang mencakup Kecamatan Sungkai Utara, Sungkai Selatan, dan juga Sungkai Jaya.
g. Bahasa Lampung Logat Jelema Daya
Bahasa ini yang disebut juga dengan Logat Komering dipertuturkan masyarakat Lampung di Martapura, Muara Dua, Tanjung Raja, Komering, dan juga Kayuagung di Provinsi Sumatera Selatan.
2. Dialek Abung
Dialek Abung atau disebut juga dengan dialek Nyo ini terbagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
a. Bahasa Lampung Logat Abung
Bahasa ini dituturkan etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Lampung Utara seperti Kecamatan Abung Barat, Kotabumi, dan juga Abung Selatan.
Selain itu, dipakai juga di Lampung Tengah yang meliputi Kecamatan Punggur, Gunung Sugih, Seputih Raman, Teranggi Besar, Rumbia, dan Seputih Mataram. Bahasa ini digunakan juga di Lampung Timur, Lampung Selatan, Kota Metro, dan Kota Bandar Lampung.
b. Bahasa Lampung Logat Menggala
Bahasa ini banyak dituturkan oleh orang-orang yang berdomisili di Kabupaten Tulang Bawang seperti Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Tulang Bawang Udik, Menggala, Gedung Aji, dan Gunung Terang.
Suku Lampung - Aksara Lampung
Aksara Lampung merupakan jenis tulisan yang mempunyai kaitan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Jenis tulisannya adalah fonetik berjenis suku kata berupa huruf hidup.
Aksara ini hampirs sama seperti di dalam huruf Arab yang memakai tanda-tanda fathah di baris atas serta tanda-tanda kasrah di baris bawah, tetapi tak memakai tanda dammah di baris depan, melainkan memakai tanda di belakang. Setiap tanda tersebut memiliki nama khusus.
Nah, demikianlah ulasan seputar suku Lampung. Semoga bermanfaat!
Posting Komentar untuk "Yuk Berkenalan dengan Suku Lampung"