Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Suku Tonsea | Salah Satu Sub Suku Minahasa di Sulawesi Utara

 sumber gambar by donsu dengah on flickr.com

Tonsea merupakan nama yang mengacu pada sub etnis yang ada di Tanah Malesung yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan Minahasa. Sebagai suatu etnis, Tonsea memiliki bahasa sendiri dan masuk dalam rumpun bahasa Minahasa.

Bahasa Tonsea ini digunakan oleh sebagian besar masyarakat Kabupaten Minahasa Utara dan Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Salah satu pemimpin dari Suku Tonsea yaitu Xaverius Dotulong.

Mengenal Suku Tonsea

Suku tonsea merupakan salah satu sub-suku Minahasa yang berada di Provinsi Sulawesi Utara. Daerah pemukiman suku ini berada di Kabupaten Minahasa Utara yang meliputi daerah semenanjung Sulawesi, Kota Bitung, Airmadidi, Kauditan, Kema, Kota Bitung, Taletu, Talawaan, dan Likupang Timur. 

Populasi suku yang satu ini diperkirakan lebih dari 90.000 orang pada sensus yang dilakukan tahun 1989.
 
Salah satu dari suku Minahasa ini berasal dari Pakasa’an Tountewoh yang merupakan anak suku Minahasa. Orang-orang suku ini berbicara menggunakan bahasa Tonsea. 

Bahasa ini merupakan salah satu dialek bahasa Minahasa yang banyak digunakan oleh sebagian besar orang pada suku yang satu ini.
 
Berikut adalah beberapa dialek dalam bahasa Tonsea, yaitu:

  • Dialek Maumbi
  • Dialek Airmadidi
  • Dialek Likupang
  • Dialek Kauditan
  • Dialek Klabat
  • Dialek Bitung

Dialek-dialek di atas pada dasarnya tidak jauh berbeda penggunaannya. Hal ini dikarenakan setiap pemakai dialek yang berbeda wilayah bisa saling berkomunikasi dengan baik menggunakan dialek masing-masing. 

Pada saat ini, perkembangan bahasa Tonsea sendiri mengalami penurunan dalam jumlah penuturnya. Hal ini diakibatkan dominasi dari bahasa Melayu Manado yang cenderung lebih banyak digunakan oleh golongan generasi muda suku Tonsea.
 
Pada abad ke-17, suku Tonsea dipimpin oleh seseorang yang bernama Xaverius Dotulong. Xaverius Dotulong ini merupakan pemimpin suku Tonsea yang berkedudukan di Kema. 

Xaverius Dotulong ini merupakan anak dari Runtukahu Lumanauw yang tinggal di Kema dan merintis pembangunan pertama kali di wilayah adat suku Tonsea.
 
Suku Tonsea sempat berkorespondensi dengan Gubernur ternate, Robertus Padtbrugge. Saat korespondensi ini dilakukan, pemimpin suku, Xaverius Dotulong,  menggunakan bahasa Melayu yang sudah digunakan oleh para pedagang yang ada di sekitar Maluku.
 
Mayoritas suku Tonsea ini memeluk agama Kristen. Agama ini tumbuh dengan kuat dalam kehidupan masyarakat suku tersebut. Hal ini terlihat dari banyaknya bangunan gereja yang berdiri di setiap pemukiman masyarakat suku Tonsea. 

Masyarakat suku ini sering menyelenggarakan kegiatan di gereja-gereja. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin masyarakat dan menjadi kegiatan sangat penting.
 
Masyarakat suku Tonsea pada umumnya berprofesi sebagai petani. Masyarakat suku ini menanam beberapa jenis sayuran, termasuk juga jagung, cengkeh, dan beberapa jenis buah-buahan. 

Selain itu, profesi lain yang digeluti masyarakat suku ini di antaranya pedagang, guru, pegawai negeri, dan sektor-sektor swasta. Banyak juga masyarakat suku Tonsea yang merantau ke berbagai daerah di Indonesia seperti Manado, Makasar, Papua, Maluku, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Antara Tonsea dan Minahasa

 sumber gambar by indra jacobus on flickr.com

Minahasa merupakan salah satu daerah yang terletak di Sulawesi Utara. Minahasa ini merupakan sebuah etnis yang memiliki banyak sub-etnisnya. Di tanah Minahasa ini, terdapat berbagai macam kebudayaan, suku, dan adat yang saling berdampingan. 

Selain itu, tanah Minahasa juga memiliki berbagai macam kaum yang satu sama lain saling berhubungan.
 
Salah satu kaum di Minahasa adalah kaum pendatang. Kaum pendatang di tanah Minahasa ini terbagi menjadi beberapa bagian. Sebut saja Kaum Kuritis. Kaum ini memiliki ciri fisik berambut keriting. Kaum lainnya adalah Kaum Lawangirung yang berarti berhidung pesek.
 
Kaum Minahasa sendiri menurunkan beberapa suku seperti Tonsea, Tombulu, Tompakewa, Tolour, Bantenan Pasan dan Ratahan, Tonsawang, dan Suku Bantik yang masuk di tanah Minahasa sekitar tahun 1590.

Suku-suku yang menjadi bagian dari Minahasa ini menjadi ciri bahwa Minahasa memang memiliki banyak kebudayaan beragam.
 
Pada awalnya, suku-suku di tanah Minahasa ini berdampingan tanpa adanya perselisihan. Dengan sistem kekeluargaan yang dianut oleh semua daerah di tanah Minahasa tersebut, maka seluruh masyarakat dan suku-suku di Minahasa terbentuk tanpa adanya sistem kerajaan seperti di wilayah lainnya. 

Hingga pada suatu saat, para Tetua di Minahasa menginginkan sistem kerajaan terbentuk di Minahasa. Hal ini berjalan dengan sistem yang otoriter dan membuat banyak masyarakat Minahasa dipekerjakan secara paksa.
 
Dengan sistem pemerintahan Minahasa yang menjadi otoriter tersebut, maka timbullah perlawanan dari masyarakat dan semua suku-suku di Minahasa. Perlawanan ini akhirnya menimbulkan peperangan yang menimbulkan tatanan kehidupan masyarakat di Minahasa tidak menentu. 

Hal ini kemudian memunculkan golongan Tonaas yang merasa perlu adanya sebuah tindakan untuk membereskan hal-hal tersebut.
 
Golongan Tonaas akhirnya mengupayakan sebuah permusyawaratan antara semua golongan, kaum, dan juga suku-suku di Minahasa. Musyawarah ini akhirnya diikuti oleh semua kalangan di Minahasa dan dikenal dengan sebutan Watu Pinabetengan. 

Hingga saat ini, peristiwa permusyawaratan ini masih dikenal dan dijadikan sebuah monumen yang menjadi tempat wisata favorit di wilayah Sulawesi Utara.
 
Dari permusyawaratan yang dilakukan oleh golongan-golongan Minahasa tersebut, kemudian diperoleh 9 pokok hasil dari musyawarah tersebut. 

Berikut adalah beberapa pokok dari hasil musyawarah di Minahasa, antara lain: 

  • Kepala pemerintahan dipilih dari yang tua, jujur, berani, berwibawa, kuat, dan berani maju dalam segala hal.
  • Segala usaha harus selalu dimusyawarahkan bersama
  • Dewan Tua-tua atau Patuosan merupakan dewan yang mengawasi jalannya pemerintahan yang dijalankan oleh Hukum Tua
  • Mempertahankan kebiasaan dan adat istiadat yang sudah baik.
  • Memperketat wibawa orangtua di hadapan anak-anak atau orang yang lebih muda.
  • Wanita dan Laki - laki mempunyai derajat dan kedudukan yang sama.
  • Pesan para Tetua tidak boleh diremehkan.
  • Pemerintahan Minahasa dipegang oleh rakyat atau Pasiowan Telu dan demokrasi pun mulai diterapkan.
  • Keputusan penting dalam musyawarah tersebut adalah pembagian wilayah Minahasa menjadi 4 bagian, yaitu Tontewoh, Tombulu, Tompakewa, dan Tolour.

Selain pokok-pokok di atas, kebudayaan yang masih dianggap baik untuk masyarakat Minahasa masih dipegang teguh oleh para Tetua di Minahasa tersebut.
 
Setelah hasil musyawarah yang diikuti oleh semua golongan di Minahasa tersebut, maka pemerintahan pun berjalan dengan baik. Seiring dengan berjalannya waktu, wilayah pembagian dari Minahasa, yaitu Tontewoh, diganti menjadi Tonsea pada 1679 dan Tompewake diganti menjadi Tontemboan pada 1875.
 
Sejak berjalan menjadi wilayah yang merdeka, setiap wilayah kemudian dipimpin oleh kepala suku yang disebut dengan Tonaas. Suku Tonsea yang merupakan suku Minahasa terbesar dipimpin oleh Tonaas Walalangi dan Tonaas Rogi. 

Suku Tonsea menjadi salah satu suku yang mencakup wilayah terbesar hingga Tonsea pun menjadi suku Minahasa yang saat ini kita kenal.

Anak Suku Tonsea

Seperti yang sudah diketahui di atas, suku Tonsea merupakan suku Minahasa yang memiliki keunikan dari mulai bahasa, nama marga, kebudayaan, dan lain sebagainya. Anak suku Tonsea memiliki banyak sejarah yang menggambarkan betapa unik suku Minahasa tersebut.
 
Pada awalnya, suku ini melakukan pembangunan desanya dengan berpindah dari Niaranan ke Kembuan. Di daerah tersebut, banyak tumbuh kayu sea yang digunakan sebagai obat herbal dan terkenal ampuh. Dari sinilah mereka menyebut suku mereka dengan sebutan tou un sea atau Tonsea.
 
Pada abad ke-15, Tonaas Dotulong, Tonaas Todajoh, dan Tonaas Koagou yang merupakan pemimpin dari suku Tonsea berhasil menguasai daerah Dimembe. Akan tetapi, keberhasilan ini tidak membuat suku ini menjadi terpecah belah. 

Suku ini tetap berpegang teguh pada adat dan tradisi. Suku ini tetap memberlakukan adanya satu walak atau anak suku Tonsea. Suku ini tetap utuh di bawah kepemimpinan Tonaas Dotulung yang kemudian berubah nama menjadi Dotulong.
 
Demikianlah pembahasan mengenai Tonsea yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat!

Mas Pujakusuma
Mas Pujakusuma "Visi Tanpa Eksekusi Adalah Halusinasi" - Thomas Alva Edison

Posting Komentar untuk "Mengenal Suku Tonsea | Salah Satu Sub Suku Minahasa di Sulawesi Utara"