Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Lebih Jauh Suku Alas di Aceh Tenggara

 

sumber gambar by gubernur2017 on flickr.com

Suku Alas adalah salah satu suku yang ada di Indonesia. Komunitas Suku Alas berdiam diri di daerah Aceh bagian Tenggara. Daerah tempat tinggal mereka dinamakan Tanah Alas. 

Sedangkan alas sendiri adalah sebuah kata yang artinya tikar. Ini cocok sekali dengan keadaan alam di situ yang sangat datar bagaikan tikar yang sedang dibentangkan di atas lantai.
 
Kebanyakan dari mereka hidup di desa dan bekerja sebagai petani atau peternak. Hasil utamanya adalah padi, karet, kopi dan buah kemiri. Sedang untuk ternaknya mereka memelihara kambing, sapi, kerbau dan kuda.
 
Semua orang Suku Alas menganut agama Islam. Jadi tidak berbeda dengan penduduk di daerah Aceh yang lain. Namun demikian, sampai saat ini mereka tetap menjalankan kegiatan yang bersifat mistik.

Misalnya, ketika mau mulai menanam padi, mereka menyelenggarakan upacara tradisi yang tata caranya sama sekali tidak dikenal dalam agama Islam.

Sejarah Suku Alas

Jauh sebelum pemerintah kolonia Belanda datang ke Indonesia, Ukhang Alas atau Kalak Alas (Khang Alas) telah bermukim lama di lembah Alas. Bahkan, keadaan para penduduk di lembah Alsa tersebut sudah pernah diabadikan di sebuah buku karangan seorang warga negara Belanda bernama Radermacher. 

Sementara itu, jika dilihat dari catatan sejarah masuknya agama Islam ke Tanah Alas pada 1325, jelas sekali penduduk ini telah ada meskipun hidupnya masih secara nomaden dan menganut keyakinan animisme.
 
Sebenarnya, nama Alas itu ditujukan bagi seseorang atau sebuah kelompok etnis, sedangkan wilayah atau daerah Alas disebut dengan Tanoh Alas. Adapun kata alas berasal dari nama seorang kepala etnis atau cucu dari Raja Lambing yang tinggal di desa tertua di Tanoh Alas, yakni Desa Batu Mbulan.
 
Raja yang tinggal pertama kali di Tanoh Alos yaitu berada di Desa Batumbulan bernama atau dikenal dengan nama Raja Lambing. Raja ini merupakan keturunan dari Raja Lotung atau dikenal sebagai cucu dari Guru Tatae Bulan dari Samosir Tanah Batak. Dalam hal ini, Tatae Bulan merupakan saudara kandung dari Raja Sumba.
 
Guru Tatae Bulan memiliki lima orang anak, yakni Raja Uti, Saribu Raja, Limbong, Sagala, serta Silau Raja. Saribu Raja adalah orangtua dari Raja Borbor dan juga Raja Lontung. 

Sementara Raja Lontung memiliki tujuh orang anak, yakni Sinaga, Pandiangan, Situmorang, Simatupang, Nainggolan, Aritonang, serta Siregar atau dikenal juga dengan sebutan Siampudan (Payampulan). 

Pandiangan adalah moyang dari Pande, Gultom, Suhut Nihuta, Pakpahan, Samosir, Sitinjak, Harianja, Solin di Dairi, Sebayang dari Tanah Karo, Selian dari Tanah Alas, dan Keluet dari Aceh Selatan.
 
Raja Lambing dikenal sebagai moyang dari merga Sebayang di Tanah Karo serta Selian di Tanah Alas. Raja Lambing adalah anak paling bungsu dari tiga bersaudara, Raja Patuha di Dairi (kakak tertua) dan kedua adalah Raja Engang yang pindah ke Kluet, Aceh Selatan. Sementara itu, keturunan serta pengikutnya yaitu merga Pinem atau Pinim.
 
Lalu, Raja Lambing pindah ke Tanah Karo. Keturunan dan pengikutnya yaitu merga Sebayang yang berwilayah di Tigabinaga sampai ke Perbesi dan Gugung, Kabupaten Karo. Raja Lambing diperkirakan hijrah dari Tanah Karo ke Tanah Alas dan tinggal di Desa Batumbulan pada abad ke-12. Sementara itu, keturunan serta pengikutnya yaitu merga Selian.
 
Di Tanah Alas ini, Raja Lambing memiliki tiga orang anak, yakni Raja Lelo (Raje Lele) yang keturunan dan pengikutnya berada di daerah Ngkeran. Lalu, ada juga Raja Adeh yang dikenal sebagai moyangnya serta pengikutnya orang Kertan. 

Anak ketiga bernama Raje Kaye dan keturunannya tinggal di Batumbulan, termasuk juga Bathin. Sampai tahun 2000, keturunan Raja Lambing di Tanah Alas sudah memiliki keturunan ke-26 yang tinggal dan tersebar di sekitar Tanah Alas.
 
Sesudah Raja Lambing, menyusul kemudian Raja Dewa yang istrinya dikenal sebagai putri dari Raja Lambing. Pada akhirnya, Raja Lambing memberikan kepemimpinannya kepada Raja Dewa yang merupakan menantunya dan dikenal dengan nama Malik Ibrahim, pembawa ajaran agama Islam yang sangat terkenal di Tanah Alas.
 
Bukti situs sejarah tersebut hingga saat ini masih ada di Muara Lawe Sikap, Desa Batumbulan. Malik Ibrahim ini memiliki seorang anak laki-laki bernama Alas. 

Dengan demikian, sampai tahun 2000, ia sudah mempunyai keturunan ke-27 yang tinggal di sekitar Kabupaten Aceh Tenggara, Medan, Banda Aceh, Malaysia, dan wilayah lainnya.
 
Perlu diketahui bahwa ada hal yang cukup menarik perhatian, yaitu kesepakatan antara pihak putra Raja Lambing (Raja Adeh, Raja Lele, dan Raja Kaye) dan Raja Dewa (Raja Alas). 

Kesepakatan tersebut berisi bahwa syiar Islam yang dibawa Raja Dewa diterima oleh semua kalangan penduduk Alas, tetapi adat istiadat yang dimiliki Raja Lambing masih tetap digunakan bersama. 

Oleh karena itulah, jelas sekali bahwa asimilasi adat dan kebudayaan suku Alas sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu.

Cara Suku Alas Merawat Jenazah

Contoh dari tradisi itu adalah bila ada orang yang meninggal, orang Suku Alas punya tradisi tersendiri dalam merawat jenazah dari orang yang sudah mati tersebut. Tradisi adat ini punya kandungan budaya yang selalu diwariskan dari para leluhur kepada generasi yang masih hidup sampai saat ini. 

Upacara ini terbagi dalam beberapa bagian dengan urutan sebagai berikut :

1. Masa Mayat di Rumah
 
Bila sudah meninggal, seorang anggota keluarga dari orang yang meninggal itu memberi kabar kepada pemimpinnya, kemudian info ini disebarkan kepada semua warga. Lalu mempersiapkan segala peralatan yang digunakan untuk memandikan mayat.

2. Masa Mayat Dimandikan
 
Suku Alas biasanya memandikan mayat di sungai. Karena di tempat itu memang jarang ada sumur. Segala keperluan mandi memang lebih sering dilakukan di sungai langsung. Dan sebelum dimandikan mayat tersebut ditusuk-tusuk. Tujuannya adalah ketika menuju ke alam baqa, mayat tersebut tidak teringat lagi pada keluarga yang sudah ditinggalkan.

3. Masa Penguburan Mayat
 
Setelah dimandikan dan semuanya siap, maka mayat harus segera dikuburkan. Adapun caranya tidak berbeda jauh dengan cara mengubur mayat yang lain. Yaitu dimasukan ke liang lahat kemudian ditutup kembali dengan tanah. 

Ketika liang kuburan sudah tertutup oleh tanah, maka seorang ulama akan mengambil dua batang pohon jarak dan selanjutnya ditancapkan pada bagian kepala dan kaki kuburan tersebut. Fungsinya adalah untuk memberi nisan sementara.

4. Masa Takziah
 
Tujuan dari diselenggarakannya upacara ini untuk berdoa bersama, agar arwah dari orang yang sudah meninggal bisa mendapatkan tempat yang layak dan baik. Upacara ini diadakan selama tiga hari tanpa henti dan dilakukan setelah menunaikan ibadah Maghrib.

5. Masa Hari Ketujuh
 
Acara ini diadakan secara lebih besar dari sebelumnya. Karena ada penyembelihan sapi atau kerbau. Kemudian dagingnya dimasak dan dimakan atau dibagi-bagi kepada semua masyarakat Suku Alas.

6. Masa Tanam Batu
 
Yaitu upacara pemasangan batu nisan secara permanen. Pada acara ini disediakan nasi yang terbuat dari beras ketan dan diberi warna kuning untuk disantap bersama-sama. Selain itu disediakan pula air yang dicampur dengan jeruk purut yang nantinya disiramkan pada kuburan, sambil dibacakan doa-doa.

7. Masa Empat Puluh Hari
 
Sesuai dengan namanya, upacara ini juga diselenggarakan setelah empat puluh hari meninggal dunia. Biasanya dilakukan lebih sederhana dengan mengadakan kenduri dan pembacaan doa. Ini adalah upacara terakhir yang diadakan untuk orang yang sudah meninggal dunia.
 
Itulah ulasan seputar suku Alas. Semoga bermanfaat!

Mas Pujakusuma
Mas Pujakusuma "Visi Tanpa Eksekusi Adalah Halusinasi" - Thomas Alva Edison

Posting Komentar untuk "Mengenal Lebih Jauh Suku Alas di Aceh Tenggara"