Mari Mengenal dan Mempelajari Suku Asmat di Papua
Papua memiliki begitu banyak suku yang hidup tersebar di berbagai wilayah daerahnya. Salah satu di antara suku terbesar dan paling terkenal di tanah Papua adalah Suku Asmat.
Hal yang mungkin cukup akrab di lingkungan masyarakat luas dan itu sangat khas Suku Asmat adalah ukiran kayu. Masyarakat Asmat memang ahlinya dalam mengukir kayu untuk dijadikan sebagai hiasan.
Sebagian masyarakatnya bahkan mengandalkan pendapatan dari membuat dan menjual ukiran-ukiran kayu tersebut. Seni ukiran, bagi masyarakat asli Asmat, bukan hanya sebagai bentuk eksistensi, melainkan juga sebagai sebuah ritual yang tujuannya untuk mengenang arwah para leluhur.
Sampai saat ini, kepercayaan terhadap para leluhur, masih kental di sekitar masyarakat Asmat. Hal ini terlihat sebagian masyarakat Asmat yang masih menganut animisme. Sebagiannya lagi adalah masyarakat penganut Katolik dan Protestan.
Kehidupan Masyarakat Suku Asmat
Ukiran khas masyarakat Asmat sebagian besar bertemakan mbis. Mbis adalah ukiran yang bertemakan nenek moyang dari masyarakat Asmat.
Selain ukiran dengan tema nenek moyang, ada bentuk lain yang juga menjadi bagian dari masyarakat Asmat. Adalah ornamen atau motif berbentuk perahu atau masyarakat sana mengenalnya dengan nama lain wuramon.
Motif wuramon ini lebih dari sekadar motif. Masyarakat Asmat menyimbolkan perahu ini sebagai sebuah armada yang membawa para leluhur mereka menuju alam kematian.
Masyarakat Suku Asmat tinggal di dua wilayah yang berbeda. Secara keseluruhan, masyarakat Asmat dua wilayah, yaitu wilayah yang dekat dengan pesisir pantai, dan masyarakat Asmat yang memilih untuk tinggal di pedalaman. Meskipun sama-sama satu suku, masyarakat Asmat yang tinggal di dua wilayah berbeda ini memiliki berbagai perbedaan.
Perbedaan yang dimaksud meliputi struktur sosial, ritual yang dilakukan, dialek, hingga bagaimana mereka mempertahankan hidup.Untuk masyarakat Asmat yang tinggal di wilayah pesisir mereka terbagi kembali dalam dua suku, yaitu Suku Bisman dan Suku Simai.
Kawasan tempat tinggal masyarakat Asmat sudah menjadi sebuah kabupaten dengan 7 kecamatan atau distrik di dalamnya. Curah hujan sangat tinggi pada daerah ini, mencapai 3000-4000 milimeter/tahun.
Akibatnya, tanah di wilayah kediaman Suku Asmat sangat basah dan lembek. Belum lagi air laut yang kadang juga naik hingga ke daratan, yang membuat tanah semakin becek, sehingga sulit sekali dilalui oleh kendaraan.
Keberadaan masyarakat Asmat bisa ditemui di pesisir Laut Arafuru, dan Pegunungan Jayawijaya. Ada satu hal yang menarik dari kehidupan masyarakat Asmat. Tahukah Anda bahwa batu, bisa dijadikan sebagai mas kawin.
Mengingat medan tempat tinggal mereka tanah lembek, dan berlumpur, batu sangat sulit ditemukan. Padahal, batu sangat dibutuhkan untuk membuat kapak dan berbagai perlengkapan. Maka dari itu, batu, bagi masyarakat Asmat tergolong sebagai benda berharga.
Masyarakat Asmat tinggal dalam beberapa kampung. Setiap kampung dihuni oleh 100 orang, bahkan bisa mencapai 1000 orang. Dalam satu kampung terdiri atas satu Rumah Bujang di tengah banyaknya rumah-rumah warga.
Rumah Bujang merupakan sesuatu yang wajib, karena Rumah Bujang digunakan untuk pagelaran upacara adat dan keagamaan. Saat ini, jumlah penduduk Suku Asmat diperkirakan mencapai 70.000 ribu jiwa.
Ciri Fisik
Hampir sama dengan beberapa suku yang ada di Papua lainnya, fisik anggota suku Asmat rata-rata kekar dan tegap. Itu terjadi karena kebiasaan mereka berjalan serta berburu atau melakukan kegiatan fisik lainnya.
Warna kulit suku Asmat hampir sama dengan suku Polinesia lainnya, yaitu coklat gelap sampai hitam. Hidung mancung serta rambut keriting rapat, membuat penampilan mereka terkesan seram.
Kanibal
Dahulu, suku-suku di pedalaman Papua terkenal sering sekali melakukan perang suku. Demikian juga dengan suku Asmat. Sebagai suku terbesar, mereka ditakuti oleh sebagian besar suku lainnya.
Ada sebuah kebiasaan mengerikan dahulu saat mereka berhasil menang perang dan membunuh musuhnya. Yaitu mayat musuh tersebut akan dibawa pulang ke kampung mereka dan dijadikan sebagai hidangan untuk makan semua warga.
Namun saat ini, jelas, kebiasaan tersebut sudah ditinggalkan. Masyarakat Asmat tidak lagi melakukan hal itu. Seperti yang banyak diliput oleh media-media, makanan pokok masyarakat Asmat sama dengan masyarakat Papua lainnya, mereka mengkonsumsi sagu.
Kuliner ekstrem dari wilayah ini adalah ulat sagu. Sekilas menggelikan memasukkan ulat tersebut ke dalam mulut, namun ternyata, kandungan ulat sagu tidak semenjijikan bentuknya.
Kehidupan masyarakat Asma tidak bisa jauh-jauh dari alam. Oleh karenanya, mereka sangat menghargai alam. Bagian-bagian dari tumbuhan direfleksikan sebagai bagian tubuh mereka. Sehingga, menyakiti pepohonan sama dengan menyakiti diri sendiri.
Adat Istiadat Masyarakat Suku Asmat
Adat istiadat masyarakat Asmat melingkupi seluruh hal yang ada di dalam kehidupannya. Mulai dari kelahiran hingga kematian. Seperti apa jelasnya? Berikut ini informasinya untuk Anda!
1. Kelahiran
Bukan hanya masyarakat Asmat sebenarnya yang memiliki adat-istiadat berkenaan dengan kelahiran. Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki hal tersebut. Adat istiadat masyarakat Asmat ketika menyambut kelahiran bayi juga hampir sama dengan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Bayi dibersihkan kemudian tali pusarnya dipotong. Bedanya, beberapa masyarakat Asmat masih ada yang menggunakan bamboo untuk memotongnya.
2. Pernikahan
Dalam hal pernikahan, masyarakat Asmat juga mengenal pemberian mas kawin. Mas kawin yang harus diberikan oleh seorang pria yang ingin menikahi seorang wanita harus menyiapkan piring antic dan uang sejumlah sama dengan harga sebuah perahu Johnson.
Masyarakat Asmat mengenal perahu Johnson sebagai perahu yang biasa digunakan sebagai sarana untuk melaut. Lalu, bagaimana jika pria tersebut tidak mampu membayar mas kawin sejumlah itu? Perkawinan tetap dilakukan, dengan perjanjian, bahwa setelah menikah, pihak pria harus melunasinya.
3. Kematian
Pernah melihat di televisi, beberapa masyarakat Papua memotong ruas jarinya ketika ada kerabat yang meninggal sebagai tanda kehilangan? Kebiasaan tersebut saat ini sudah mulai ditinggalkan.
Keunikan lain dalam adat istiadat masyarakat Asmat berkenaan dengan kematian adalah mengiringi jenazah dengan nyanyian dan yang pasti tangisan.
Apabila kepala suku yang meninggal, mayatnya akan diawetkan, lalu disimpan di depan rumah adat. Tetapi, apabila yang meninggal adalah rakyat biasa, jasadnya dikubur seperti biasa.
4. Adat pada Sistem Pemerintahan
Masyarakat Asmat selalu menghormati pimpinannya, baik kepala suku maupun kepala adat. Untuk menjalankan kewajibannya, kepala suku, membicarakan tugas apa yang harus dikerjakan. Sehingga, masyarakat tetap dilibatkan dalam proses kepemimpinan. Hubungan baik pun tercipta di antara masyarakat dan pemimpin.
5. Adat Istiadat dalam Peperangan
Senjata yang digunakan untuk berburu oleh masyarakat Suku Asmat adalah busur dan panah. Cerita tentang kanibal yang sudah dibahas di atas, ada kaitannya dengan adat istiadat dalam peperangan. Bahwa mereka percaya, memakan tubuh lawan akan membuat kekuatannya bertambah.
Sistem Kepercayaan Masyarakat Asmat
Masyarakat Asmat sangat percaya bahwa nenek moyangnya turun ke Bumi untuk pertama kali di daerah pegunungan. Mereka percaya bahwa masyarakat Asmat adalah anak dewa yang datang dari dunia mistik, lokasinya tempat mereka diturunkan adalah saat matahari sore tenggelam.
Mereka juga percaya bahwa ada tiga macam roh yang menjadi bagian dari mereka, yakni roh bersifat baik, jahat dan roh jahat tetapi sudah mati.
Masyarakat Asmat juga percaya bahwa mereka hidup bersama tiga roh, yaitu:
1. Yi – ow. Yi – ow adalah roh nenek moyang. Mereka roh baik, terutama terhadap keturunannya.
2. Osbopan. Adalah roh jahat.
3. Dambin. Roh ini juga termasuk roh jahat, tetapi roh ini dipercaya mati secara tidak masuk akal.
Masyarakat Suku Asmat, merupakan harta tak ternilai yang dimiliki oleh Indonesia. Pun halnya dengan masyarakat-masyarakat suku lain di Indonesia. Sebuah kekayaan yang tidak dimiliki negara manapun!
Posting Komentar untuk "Mari Mengenal dan Mempelajari Suku Asmat di Papua"