Marga Minahasa | Mengenal Marga Minahasa di Provinsi Sulawesi Utara
Marga Minahasa memang cukup terkenal di Indonesia. Seperti yang sudah kita ketahui, marga Minahasa di Indonesia menjadi salah satu marga terbesar. Minahasa yang merupakan kawasan semenanjung di Indonesia ini dulunya disebut dengan Tanah Malesung.
Kawasan semenanjung ini terletak di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Lebih tepatnya, kawasan semenanjung ini terletak di bagian timur laut Pulau Sulawesi yang luasnya mencapai 27.515 kilometer persegi.
Kawasan ini terbagi menjadi empat daerah, yaitu Bolaang Mongondow, Gorontalo, Minahasa, serta kepulauan Sangihe dan Talaud.
Selain memiliki marga yang sangat populer di kawasan Indonesia, Minahasa juga terkenal dengan tanahnya yang subur sehingga banyak variasi tanaman dan binatang yang hidup di kawasan tersebut.
Terdapat berbagai tumbuhan seperti kelapa, perkebunan cengkeh, berbagai variasi buah-buahan, dan sayuran yang banyak tumbuh di kawasan asal marga atau fam Minahasa tersebut.
Selain tumbuhan, terdapat juga banyak variasi fauna di Sulawesi Utara tersebut, antara lain binatang langka seperti burung maleo, kuskus, babi rusa, anoa, dan tangkasi yang bernama Latin tarsius spectrum.
Sejarah Minahasa dan Marga Minahasa
Seperti yang sudah kita ketahui, marga atau fam Minahasa merupakan marga yang berasal dari wilayah Minahasa, Sulawesi Utara. Daerah Minahasa ini diperkirakan pertama kali dihuni oleh manusia ribuan tahun Sebelum Masehi ketiga dan kedua.
Menurut mitologi Minahasa, keturunan Minahasa merupakan keturunan Toar Lumimuut. Keturunan Toar Lumimuut ini terbagi atas 3 kelompok, yaitu Makatelu-pitu (tiga kali tujuh), Makaru-siuw (dua kali sembilan), dan Pasiowan-Telu (sembilan kali tiga).
Perkalian dalam kelompok keturunan Toar Lumimuut ini kemudian menimbulkan perselisihan antar kelompok tersebut.
Dengan perselisihan tersebut, kemudian pimpinan keturunan tersebut yang bernama Tona’as memutuskan untuk bertemu dan berbicara mengenai perselisihan antar kelompok keturunan ini.
Pertemuan tersebut diberi nama Pinawetengan u-nuwu yang berarti pembagian bahasa yang diselenggarakan di Awuan (utara bukit Tonderukan, Sulawesi Utara).
Pertemuan yang diikuti oleh perwakilan dari kelompok-kelompok keturunan Toar Lumimuut tersebut kemudian menghasilkan pembagian kelompok. Kelompok-kelompok tersebut terbagi atas tiga kelompok. Kelompok tersebut adalah Tonsea, Tombulu, dan Tontemboan.
Pembagian kelompok tersebut sudah disesuaikan dengan kelompok-kelompok awal dari keturunan Minahasa, yaitu Toar Lumimuut.
Untuk memperingati pertemuan yang mengakhiri perselisihan antar kelompok Toar Lumimuut tersebut, kemudian dibangun batu peringatan yang disebut dengan Watu Pinabetengan yang berarti ‘batu membagi’. Hingga saat ini, lokasi batu tersebut menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Sulawesi Utara.
Selanjutnya, kelompok-kelompok yang sudah terbagi menjadi tiga tersebut mendirikan wilayah-wilayah kekuasaannya masing-masing. Kelompok Tonsea membangun wilayahnya di Maiesu, kelompok Tombulu di wilayah Niaranan, dan Tontemboan di wilayah Tumaratas.
Dari pembangunan wilayah ini, kemudian berdirilah beberapa desa yang menjadi pusat berkuasa seperti puak atau walak (sebanding dengan kabupaten saat ini).
Di sisi lain, disamping banyaknya perkembangan dari pembagian kelompok tersebut, banyak masyarakat baru yang datang mendiami kawasan Sulawesi Utara, khususnya di Semenanjung Pulisan.
Di Semenanjung Pulisan ini ,banyak orang baru yang mendirikan desa di sekitar danau besar. Orang yang hidup di sekitar perairan ini kemudian disebut dengan Tondano, Toudano atau Toulor yang berarti ‘orang air’. Danau besar yang dimaksud saat ini bernama Danai Tondano.
Setelah banyaknya orang yang datang dan mendirikan desa-desa di wilayah Sulawesi Utara, maka wilayah tersebut kemudian dipenuhi oleh beberapa sub-etnis di Minahasa.
Sub-etnis ini diantaranya Tonsea, Tombulu, Tontemboan, Tondano, Tonsawang, Ratahan Pasan atau Bentenan, Ponosakan, Babontehu, dan Bantik. Sub-etnis tersebut merupakan sub-sub yang terbagi dari etnis Minahasa. Minahasa itu sendiri muncul ketika perang Minahasa Bolaang Mangondow terjadi.
Tentang Marga Minahasa
Marga Minahasa merupakan marga yang merujuk pada nama keluarga atau marga yang dipakai di belakang nama depan masyarakat Sulawesi Utara, khususnya Minahasa atau Manado.
Di Indonesia bagian timur, nama marga ini juga dikenal dengan sebutan fam. Fam ini menunjukkan ada keterpengaruhan dari bahasa asing, yaitu bahasa Belanda. Fam ini berasal dari kata familienaam yang berarti “nama keluarga”.
Marga Minahasa diambil dari nama keluarga yang digunakan oleh kepala rumah tangga yang biasanya dipakai dari orang tua laki-laki. Dengan demikian, nama anak dari sebuah keluarga akan ditambahkan nama keluarga sang ayah di belakang namanya.
Hal tersebut pun berlaku ketika seorang perempuan menikah. Nama keluarga suami disisipkan di antara nama depan dan nama keluarga asli perempuan tersebut.
Praktik tersebut menunjukkan pengaruh budaya Spanyol dan Portugis yang masih tersisa di Minahasa. Sebuah keluarga akan menggunakan kedua marga sebagai nama resmi yang digunakan oleh setiap turunannya.
Misalnya, seorang laki-laki yang bermarga “Assa” menikah dengan seorang perempuan bermarga “Damongilala”, maka keluarga itu disebut dengan keluarga “Assa-Damongilala”. Keturunan dari keluarga tersebut tetap menggunakan marga dari sang ayah saja, yaitu “Assa”.
Sejarah Marga Minahasa dan Daftar Nama Marga Orang Minahasa
Seperti yang sudah dijelaskan, fam merupakan sebutan lain untuk marga. Fam dalam istilah orang Minahasa merupakan marga dalam bahasa Melayu. Fam ini dipakai secara turun temurun baik untuk pria maupun wanita.
Fam atau marga di sini mencerminkan karakter dari orang pertama yang diberikan fam atau marga tersebut. Fam ini bisa mencerminkan sifat, tempat tinggal, ciri-ciri tubuh, pekerjaan, strata, dan lain sebagainya.
Pada awal abad ke-19, fam ini sebenarnya sudah banyak digunakan oleh sebagian besar masyarakat di kawasan Minahasa. Kemudian pada 1831, dua penginjil Kristen Protestan, yaitu J. Riedel dan J.F.Schwarz tiba di Langowan, Minahasa.
Sebagai penginjil, tentu mereka datang untuk mengabarkan Kasih Kristus dan Alkitab dengan nama-nama yang berbau Eropa, seperti Johny, Ruth, Jantje, Sartje, Deny, Amos, dan lain sebagainya.
Saat pembaptisan, tiap orang diberi sebuah marga atau fam yang diambil dari nama ayah yang dulunya masih merupakan sebuah nama seperti Tilaar, Gorith, Rindo-Rindo, Rumagit, Tanor, dan lain sebagainya. Dari sinilah, hingga saat ini, banyak orang Manado yang memiliki nama impor, tetapi bermarga Minahasa Kuno.
Nama - Nama Marga Minahasa
Berikut adalah beberapa Marga Minahasa beserta artinya.
1. Nama Marga Berawalan Huruf A
- Abutan: pembersih
- Adam: tenang
- Akai: penjaga
- Aling: pembawa
- Andu: tempat bersenang
- Anes: tawakal
- Angkouw: keemasan
- Anis: penghalau
- Arina: tiang raja atau penengah
- Assa: pembuka jalan
- Awui: senang, ceria
2. Nama Marga Berawalan Huruf B
- Batas: pemutus
- Bella: bala tentara
- Bokau: bibit emas
- Bolang: penangkap ikan
- Boyoh: pendamai
3. Nama Marga Berawalan Huruf D
- Damongilala: benteng pertahanan
- Damopoli: jujur, adil
- Datu: pemimpin
- Datumbanua: kepala walak
- Dayoh: karunia
- Dengah: hakim
- Dien: dihiasi
- Dimpudus: otak cerdik
- Dompis: pekerja ulet
- Dondokambey: teguh
- Donsu: jimat penolak
- Doodoh: penggerak
- Doringin: penari
- Dotulong: pahlawan
- Dungus: orang yang berkedudukan
4. Nama Marga Berawalan Huruf E
- Egam: menjaga
- Egeten: lonceng kecil
- Elean: arah barat
- Eman: dipercaya
- Emor: lengkap
- Endei: dekat
- Ering: kurang besar
5. Nama Marga Berawalan Huruf G
- Ganda: bambu besar
- Gerungan: bunga-bunga ukiran
- Giroth: pemutus
- Gonibala: akal cerdik
- Gosal: timbunan
6. Nama Marga Berawalan Huruf I
- Ilat: menunggu
- Imbar: yang dibang
- Item: hitam
7. Nama Marga Berawalan Huruf K
- Kaat: penglihatan
- Kaeng: sempit
- Kainde: ditakuti
- Kairupan: kekuatan
- Kalalo: amat berani
- Kalangi: dari langit
- Kalempow: kawan baik
8. Nama Marga Berawalan Huruf L
- Lalamentik: semut api
- Laluyan: melintasi
- Lombogia: paras jernih
- Lampa: oleng
- Lumowa: melewati
9. Nama Marga Berawalan Huruf M
- Maengkom: penakluk
- Mailangkay: yang ditinggikan
- Maindako: cukup
- Makaliwe: air mata
Nama-nama marga yang di atas merupakan hanya sebagian kecil dari nama-nama marga yang dipakai oleh orang Minahasa. Masih banyak nama marga yang dipakai oleh orang Minahasa tersebut. Oleh karena itu, marga atau fam Minahasa ini merupakan salah satu marga yang terkenal di Indonesia.
Demikianlah pembahasan mengenai marga-marga Minahasa yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat!
Posting Komentar untuk "Marga Minahasa | Mengenal Marga Minahasa di Provinsi Sulawesi Utara"