Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Suku Mori Salah Satu Suku di Provinsi Sulawesi Tengah

sumber gambar flickr.com

Suku Mori adalah penduduk atau masyarakat dari Kerajaan Mori yang terletak di wilayah pesisir timur Provinsi Sulawesi Tengah. Mereka mendiami Teluk Tolo atau disebut juga dengan Teluk Tomori. 

Teluk ini diapit oleh jazirah timur laut dan juga jazirah tenggara Pulau Sulawesi. Kerajaan yang satu ini juga merupakan kerajaan yang mampu berkembang di wilayah Indonesia.
 
Para penduduk asli dari suku bangsa Mori atau disebut juga dengan masyarakat Wita Mori adalah kelompok etnik yang mempunyai populasi cukup banyak di wilayah Sulawesi Tengah. Sekarang ini mereka tinggal di Kabupaten Morowali.
 
Berdasarkan dengan asal-usul sejarah terbentuknya Kerajaan Mori, kerajaan ini mempunyai cerita yang sama dengan kerajaan lain yang ada di wilayah Sulawesi. Sama-sama memiliki tokoh luar biasa di dalamnya.

Meskipun mempunyai karakter serta corak yang berbeda, cerita atau legenda yang berkembang adalah cikal-bakal berdirinya Kerajaan Mori berawal dari tokoh yang ada di dalamnya dan menempati jabatan sebagai Mokole.
 
Dari berbagai kajian yang ada dengan bersumber dari peninggalan nenek moyang maupun leluhur dengan dukungan kepustakaan yang ada, dapat disimpulkan bahwa kerajaan dari suku bangsa Mori atau Kerajaan Wita Mori merupakan kerajaan persemakmuran yang terbentuk dari berbagai gabungan kerajaan yang ada di wilayah yang otonom.
 
Jadi setiap daerah mempunyai pemimpinnya masing-masing. Meskipun begitu, adat istiadat, silsilah pemimpin ataupun raja-raja serta bahasa yang pernah ada saat masa kedudukan zaman pemerintahan mereka telah berjalan selama ratusan tahun yang lalu. Eratnya hubungan satu sama lain merupakan rasa kekeluargan yang mencerminkan solidaritas.
 
Solidaritas tersebut mendukung terbentuknya kerajaan persemakmuran dalam rangka membangun semuanya secara gotong-royong. 

Pertahanan serta kerjasama yang terpadu saat terjadi peperangan antar suku serta untuk menjaga ekspansi dari pihak kolonial Belanda yang ikut campur dalam permasalahan dalam hal perdagangan di sekitar wilayah Teluk Tomori menjadi bentuk dukungan tersendiri.
 
Batasan wilayah dari Kerajaan Mori ini yaitu, Kabupaten Poso di bagian utara, serta Tojo lalu wilayah yang dipakai untuk tempat pemukiman kelompok Suku Topasa atau Pasa, Suku Topalande atau Palande yang ada di bagian barat. 

Perbatasan sebelah selatan adalah wilayah dari Kerajaan Luwu serta wilayah dari Kerajaan Bungku. Kemudian berbatasan dengan wilayah Teluk Tolo atau Teluk Tomori yang terletak di sebelah timur.
 
Suku bangsa Mori merupakan masyarakat yang terdiri atas berbagai macam kelompok multikultural dan majemuk. Masyarakat mori bisa dilihat dalam dua bagian. Kategori yang pertama yaitu penduduk asli yakni mereka yang telah menjadikan tempat tersebut sebagai kediaman mereka dengan waktu yang lama.
 
Penduduk asli ini dipecah lagi ke dalam tiga bagian yaitu, masyarakat asli Mori, penduduk asli namun bukan termasuk ke dalam orang Mori yang berada di dalam kerajaan, serta masyarakat yang berasal dari suku-suku di daerah yang lainnya.
 
Masyarakat tersebut sudah beratus tahun yang lalu mengadakan eksodus dan tinggal di sekitar wilayah dari Kerajaan Mori. 

Lalu kategori yang kedua adalah masyarakat yang termasuk ke dalam masyarakat asing, kaum yang ada di dalam kategori ini termasuk para masyarakat pendatang dari daerah lain di luar Mori.
 
Kedatangan para pendatang tersebut ke Mori bukan untuk menetap, akan tetapi hanya untuk sekedar mampir. Sebagian besar dari mereka memiliki mata pencaharian sebagai pedagang atau sebagai peramu.
 
Kedatangannya di daerah tersebut sangat memiliki hubungan yang erat dengan perjalanan perkembangan perdagangan di sekitar wilayah Hindia Belanda, terutama untuk di luar Madura dan Jawa yang saat itu sedang menjalankan kebijakan dari pemerintah kolonial yang dengan bebas membuka lahan untuk tempat perdagangan.
 
Bukan hanya itu, kedatangan masyarakat di luar Mori tersebut juga ikut menghadirkan pelabuhan bebas yang berguna memperlancar kegiatan dalam perdagangan sekitar 1847. 

Kebijakan perdagangan bebas yang berlangsung ini jadi peluang akses para pedagang Cina dan Bugis yang selalu berdatangan ke wilayah Mori.
 
Selain melakukan aktivitas dalam perdagangan, mereka juga mencari berbagai rempah yang ada di Wita Mori. Dengan adanya aktivitas tersebut peluang besar juga menghampiri Para Mokele serta para raja dengan para pedagang Cina dan Bugis mengenai transaksi senjata api.
 
Memang senjata api tersebut pada awalnya hanya untuk rasa terima kasih atau hadiah semata agar keamanan para pedagang bisa terjamin dalam melaksanakan perdagangan di Mori.
 
Semua kerajaan yang ada di sekitar wilayah nusantara tidak akan pernah lepas dari hal yang berbau peperangan, baik antara kerajaan ataupun suku maupun perang yang terjadi dengan para kolonial Belanda. 

Belanda memang ingin menjajah wilayah Indonesia untuk menguasai kekayaan alam yang ada. Begitu pula yang terjadi dengan Kerajaan Mori.
 
Meskipun Mori merupakan sebagian kecil dari beragam suku maupun kerajaan yang ada di Indonesia, mereka tercatat dalam peperangan melawan para kolonial dari Belanda. 

Sekitar 1670 Kerajaan Mori sudah berusaha untuk menjaga wilayah kekuasaan dari berbagai macam kerajaan lain yang hendak mengambil kedudukan kerajaan di Mori tersebut.
 
Salah satunya yaitu peperangan yang dilakukan Kerajaan Mori dengan Kerajaan Luwu yang pada saat tersebut kalah dari pertarungan itu. Bahkan pemimpin dari Kerajaan Mori yang pertama yaitu Ratu Wedange ditawan oleh Kerajaan Luwu.
 
Kemudian perang dalam melawan pihak dari pemerintah Hindia Belanda yang terjadi sekitar 1856. Perang ini disebut dengan Perang Endosau namun lebih terkenal dengan sebutan Perang Mori. Raja Tosakelo merupakan pemimpin dari peperangan yang terjadi tersebut.
 
Beliau saat itu mulai bisa mengumpulkan berbagai kekuatan setelah melakukan berbagai pembenahan dari struktur sebelumnya yang dianggap tidak berfungsi dengan baik. Di dalam perang Mori tersebut yang berhasil mengibarkan bendera yaitu pihak Belanda di sekitar wilayah benteng Ensaondau.
 
Peperangan terus saja terjadi sampai pada saatnya Perang Mori kedua  terjadi. Saat Perang Mori II telah berakhir penataan segera dilakukan oleh para pemerintah dari Hindia Belanda. 

Penataan yang dilakukan yaitu menjadikan Kerajaan Mori sebagai salah satu bagian dari wilayah government gebied atau pemerintahan langsung serta dikelompokan pada sekitar wilayah dari pemerintahan Sulawesi serta daerah dari bawahannya yang berpusat dengan pemerintahan di wilayah Makassar.
 
Lalu masing-masing dari bekas Kerajaan Bungku juga Kerajaan Mori menduduki sebagai daerah dari Swapraja. Kemudian daerah Swapraja ini mengalami pembagian lagi menjadi 4 distrik yakni distrik Sampalowo, Ngusumbatu, Soyo dan Kangua. Yang menjadi kepala pemerintahannya pada saat itu disebut dengan kepala distrik.
 
Pihak pemerintah Hindia Belanda telah berkumpul dan membicarakan struktur pemerintahan serta telah menghasilkan keputusan yang diambil sekitar 1942. 

Keputusan tersebut yaitu Swapraja Mori dibagi menjadi 3 distrik yakni distrik yang berpusat di Tomata (Tomata), distrik yang berpusat di Tinompo (Ngusumbatu) ,dan distrik yang berpusat di Kolonade ( Petasia).
 
Pemerintah yang ada di Kabupaten Morowali memiliki suatu visi yang tujuannya yaitu menjadikan Morowali sebagai salah satu daerah yang sukses dalam agribisnis. 

Wilayah ini sekarang sudah mulai memperbaiki satu persatu kearifan lokal yang ada, di antaranya Suku Wana yang terletak di Kecamatan Momosalato dan Bungku Utara Kabupaten Morowalim memberikan fasilitas untuk memperlancar jalannya produksi yang nantinya bisa dijangkau oleh para pemerintah.
 
Sekian artikel yang membahas mengenai asal-usul sejarah dari Suku Mori yang terletak di wilayah Sulawesi. Semoga ini bisa menjadi salah satu sumber yang menambah wawasan Anda dalam pengetahuan suku-suku yang ada di Indonesia.

Mas Pujakusuma
Mas Pujakusuma "Visi Tanpa Eksekusi Adalah Halusinasi" - Thomas Alva Edison

Posting Komentar untuk "Mengenal Suku Mori Salah Satu Suku di Provinsi Sulawesi Tengah"