Suku Singkil | Salah Satu Suku Asli di Nanggroe Aceh Darussalam
Indonesia memang kaya akan budaya yang dimiliki. Bukan hanya mempunyai kekayaan dari sumber daya alamnya akan tetapi juga dari suku-suku yang ada. Salah satu suku yang ada di Indonesia yaitu Suku Singkil.
Suku Singkil merupakan salah satu suku yang ada di Kota Subulussalam di Provinsi Aceh serta di Kabupaten Aceh Singkil daratan.
Bila dibedakan secara umum, masyarakat Singkil terdiri atas dua macam etnis yaitu Etnis Pesisir serta Etnis Singkil. Bukan hanya itu, setelah itu berbagai jenis etnis minoritas lain pun masuk.
Wilayah Aceh merupakan tempat kediaman dari suku ini. Di wilayah Aceh ada 4 kecamatan yang dijadikan tempat tinggal bagi suku ini yaitu Pulau Banyak, Simpang Kanan, Simpang Kiri, dan Singkil.
Masyarakat yang ada di Singkil diduga merupakan hasil dari pembauran yang terjadi dari Nias, Minangkabau serta Mandailing. Wilayah Sumatera Utara merupakan perbatasan langsung dengan daerah kediaman dari masyarakat Singkil.
Sebagian besar profesi atau mata pencaharian dari masyarakat Singkil yaitu bercocok tanam serta menangkap ikan.
Namun sebagian juga ada yang memilih bekerja sebagai buruh yang membawa balok-balok kayu ke kapal untuk keperluan ekspor ke Jakarta atau ke luar negeri serta ada juga yang menjadi buruh di perkebunan kelapa sawit.
Bagi masyarakat yang ada di suku ini, orang yang mempunyai derajat paling tinggi adalah alim ulama, ahli adat serta orang yang memiliki materi melimpah.
Etnis Singkil atau masyarakat yang merupakan Suku Singkil mempunyai budaya serta berbagai macam adat yang sangat berkaitan dengan suku yang ada di Provinsi Sumatera Utara yaitu Suku Pakpak.
Bukan hanya adat serta budayanya, bahasa sehari-harinya pun mempunyai kesamaan antara Suku Singkil dengan Suku Pakpak.
Para ahli linguistik serta ahli etnologi membuat pendapat berdasarkan pandangan mereka bahwa masyarakat Singkil atau suku ini merupakan bagian dari Suku Pakpak. Suku Pakpak yang dimaksud yaitu Pakpak Boang.
Pemakaian marga yang ada pada suku ini mempunyai banyak kesamaan dengan yang digunakan oleh Suku Pakpak. Memang tidak semuanya sama, namun sebagian besar terlihat sekali kesamaannya.
Walaupun terdapat banyak kesamaan antara Suku Singkil dengan Suku Pakpak, masyarakat yang merupakan suku asli dari Singkil lebih suka menyebut diri mereka dengan Suku Singkil.
Hal ini memang sudah menjadi perdebatan yang sangat alot. Masih dipertanyakan apakah suku ini merupakan bagian dari Suku Pakpak ataukah kedua suku itu memang terpisah dan kesamaan yang ada memang berjalan secara alami.
Untuk suku yang beretnis pesisir, biasanya lebih suka untuk mendiami wilayah pesisir serta kota-kota yang berada di sekitar wilayah Singkil. Berdasarkan budaya, adat serta bahasa masyarakat Singkil mempunyai perbedaan dibandingkan dengan etnis Singkil.
Masyarakat yang merupakan etnis pesisir memakai budaya serta adat dari Minang pesisir. Biasanya hal ini sering atau mudah untuk dijumpai di sepanjang barat dari Pulau Sumatera.
Bahasa Singkil
Bahasa yang digunakan oleh penduduk asli Singkil adalah bahasa Singkil. Namun bahasa Singkil juga terbagi lagi ke dalam 2 bahasa daerah. Dua macam bahasa daerah yang ada ini mempunyai ciri masing-masing yang membuat keduanya berbeda.
Bahasa pesisir merupakan bahasa yang digunakan di kota besar serta daerah pesisir. Bahasa pesisir ini mempunyai kesamaan dengan bahasa Minangkabau. Pada umumnya bahasa pesisir ini dipakai untuk para penduduk yang tidak mempunyai marga.
Mereka yang tidak mempunyai marga merupakan para keturunan dari pendatang yang berasal dari Ranah Minang. Para pendatang tersebut adalah para perantau yang sudah lama tinggal di daerah pesisir sejak beratus-ratus tahun yang lalu.
Sedangkan bagi mereka yang kediamannya di daerah pedalaman, bahasa yang dipakai untuk berkomunikasi yaitu bahasa Singkil. Bahasa Singkil ini mempunyai kesamaan dengan bahasa Pakpak. Bahasa ini dipakai oleh Suku Boang dan Singkil yang biasanya mempunyai marga.
Sejarah
Singkil adalah kata yang berasal dari kata sekel yang mempunyai arti yaitu MAU. Oleh karena itulah masyarakat asli Singkil dapat dengan mudah melakukan adaptasi dengan berbagai pengaruh yang ada dari suku lain.
Jadi tidak heran bila masyarakat Singkil mudah sekali lupa dengan budaya serta bahasanya sendiri. Itulah makna sebenarnya dari kata Singkil.
Pada awalnya masyarakat asli Singkil masuk ke wilayah Aceh Tenggara. Mereka datang ke wilayah ini untuk melakukan aktivitas dagang seperti ikan laut, garam dan berbagai bahan lainnya yang diperlukan di Kutacane.
Namun para pedagang tersebut pulang dengan membawa hasil pertanian yang ada di Aceh Tenggara menuju ke Singkil seperti beras. Hal ini mereka lakukan dengan menggunakan perahu melalui sungai kali alas.
Masyarakat asli Singkil, berdasarkan beberapa hikayat, dikatakan bahwa suku ini berasal dari Sumatera Barat serta hasil dari percampuran yang dilakukan oleh Suku Pakpak Dairi, Suku Aneuk Jame serta Suku Singkil di Aceh bagian selatan.
Namun ada juga perkiraan lain yang berkembang bahwa masyarakat ini berasal dari sisa Kerajaan Batu Sangkar yang ada di sekitar Sumatera Barat, dan juga pasukan Padri yang tersisa karena tidak mau menyerahkan diri kepada para penjajah Belanda.
Masyarakat asli Singkil memang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Kerajaan Barus. Kerajaan ini sekarang terletak di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Budaya Singkil
Singkil bukan hanya terkenal dengan keanekaragaman etnis yang ada serta sejarahnya namun juga terkenal dengan budaya yang khas. Budaya inilah yang membedakan Suku Singkil dengan suku yang lainnya.
Ada beberapa macam bentuk seni budaya yang dilakukan oleh masyarakat Singkil antara lain:
- Dampeng
- Tari Alas
- Tari Barat
- Tari Sri Ndayong
- Tari Piring
- Tari Biahat (Tari Harimau)
- Tari Payung
- Tari Lelambe (Tarian Terakhir)
Adat Istiadat Suku Singkil
Walaupun memang suku ini mudah sekali untuk terpengaruh dengan berbagai budaya yang datang dari suku lain, namun masyarakat Singkil juga mempunyai adat istiadat yang masih mereka pegang sampai dengan sekarang.
Salah satu jenis adat istiadat dari masyarakat asli Singkil tersebut adalah:
Hukum (Denda)
Dalam adat istiadat untuk hukum denda, masyarakat Singkil membaginya menjadi tiga tingkatan yaitu:
1. Denda 105 yang artinya menunjukan bahwa apabila seorang raja melakukan suatu kesalahan dan hal tersebut hanya ditujukan kepada seorang raja.
2. Denda 100 yang artinya menunjukan bahwa apabila seorang pengulu/kepala desa melakukan suatu kesalahan dan hal tersebut hanya ditujukan kepada seorang pengulu.
3. Denda 80 yang artinya menunjukan bahwa apabila seseorang melakukan suatu kesalahan dan hal tersebut hanya ditujukan kepada masyarakat biasa
Namun hukum denda yang telah ditentukan tersebut bisa saja terjadi perubahan sesuai dengan perkembangan zaman serta kesepakatan yang terjadi di antara masyarakat Singkil.
Marga Suku Singkil
Masyarakat asli Singkil atau Suku Batak Singkil merupakan pencampuran yang terjadi di Kabupaten Singkil Darat Provinsi Aceh serta di Kota Subulussalam.
Bila dilihat secara psikologis ada kesamaan antara etnis Singkil dengan etnis Batak hal ini terlihat dari pemberian marga yang biasanya diletakan pada akhir nama.
Marga tersebut adalah yang membedakan antara satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan oleh marga yang dipakai merupakan nama panggilan.
Berbagai macam marga Singkil di antaranya adalah Ramin, Pokan (di daerah Cinendang), Gurinci, Melayu, Bakhat atau Barat, Goci, Buluara, Selian, Kombih (Kumbi) dan Palis.
Posting Komentar untuk "Suku Singkil | Salah Satu Suku Asli di Nanggroe Aceh Darussalam"