Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sekilas Tentang Aceh - Kejayaan dan Saat Keruntuhannya

 

 sumber gambar by gubernur2017 on flickr.com

Sebelum bicara Aceh, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu tentang Indonesia. Indonesia merupakan negara kesatuan. Negara yang memiliki berjuta pesona dan keindahan. Baik dari kebudayaan sampai pada beraneka ragam suku yang tersebar dari sabang sampai merauke. 

Ditinjau dari posisinya, Indonesia terletak pada 60 LU - 110 LS dan 95 BT - 141 BT. Inilah letak indonesia secara geografis.
 
Indonesia yang merupakan negara kepulauan, dikelilingi oleh laut yang begitu luas. Hal inilah yang menyebabkan indonesia memiliki kekayaan alam yang begitu melimpah dari hasil lautnya. 

Tanahnya yang subur menyebabkan indonesia mampu menghasilkan berbagai macam bahan pangan untuk bisa mencukupi kehidupan para penghuninya, sehingga mereka bisa hidup sejahtera sampai keturunan-keturunan yang selanjutnya. Oleh sebab itu, Indonesia mempunyai sebutan gemah ripah loh jinawi.
 
Selain itu, secara geostrategis Indonesia terletak pada jalur persimpangan dunia, sehingga banyak dilewati oleh bangsa asing. Mereka sering sekali berlalu lalang melewati negara ini.. 

Bangsa asing yang datang ke Indonesia, berasal dari berbagai negara yang berbeda-beda dan dengan kebudayaan yang bervariasi. 

Oleh sebab itulah, kebudayaan Indonesia menjadi sangat beraneka ragam, karena sedikit banyak terpengaruh oleh kebudayaan bangsa lain yang bersinggah cukup lama di negara kita.
 
Berbagai macam pengaruh yang muncul tentunya ada pengaruh positif dan ada juga pengaruh negatif. Untuk mengantisipasi pengaruh negatif yang muncul, maka kita harus bisa mengubah pengaruh asing tersebut menjadi suatu kekuatan yang bisa dikendalikan oleh negara kita.

Pulau-Pulau di Indonesia

Pulau-pulau di Indonesia tersebar dari ujung paling barat sampai paling timur. Hingga saat ini, setidaknya Indonesia memiliki sekitar 17000 pulau, baik besar maupun kecil. 

Pulau besarnya seperti Pulau Sumatra, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, dan sebagian Pulau Papua. Pulau kecilnya sangat banyak, seperti Pulau Bali, Pulau Madura dan juga beberapa kepulauan, seperti Kepulauan Maluku san Kepulauan Seribu.

Suku-Suku di Aceh

Pulau-pulau di Indonesia memiliki berbagai macam kebudayaan dan suku. Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah Suku suku Aceh. 

Suku suku ini terdapat di Pulau Sumatera, khususnya di Provinsi Aceh. Lebih tepatnya provinsi ini terletak pada 2 LU - 6 LU dan 98 BT. Wilayah ini kurang lebih memiliki luas 55,0 km2.
 
Karena di wilayah ini temperatur udaranya berkisar antara 12 - 230 derajat Celcius, maka di daerah ini tumbuh berbagai macam tanaman perkebunan seperti tembakau, kopi dan sayuran. Sinar matahari yang cukup, juga sangat mendukung pertumbuhan tanaman ini.
 
Suku ini tersebar hampir di seluruh pelosok daerah daerah, seperti kawasan kota Sabang, Kabupaten Aceh Besar, Kota Banda Aceh, Kota Langsa, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya dan beberapa kabupaten lain disekitarnya.

Di kawasan tersebut terdapat pula berbagai macam suku, yaitu Suku Kluet, Suku Tamiang, Suku Gayo, Suku Alas, Suku Haloban, Suku Julu , Suku Devayan, Suku Sigulai dan suku Aneuk. 

Berikut ini adalah beberapa informasi tentang suku - suku di Aceh, antara lain :

  • Suku kluet tersebar di sebagian Kabupaten Aceh Selatan, yaitu terbagi menjadi kecamatan Kluet Utara, Timur, Selatan dan Barat.
  • Suku Tamiang, suku ini memiliki bahasa khas Tamiang, yang mirip seprti bahasa Melayu, suku ini khususnya tersebar di Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Timur dan Kota Langsa.
  • Suku Gayo, memiliki bahasa khas Gayo, suku ini tersebar di wilayah Kabupaten Gayo Lues, Takengon dan Kabupaten Bener Merah.
  • Suku Haloban, suku ini menempati kepulauan, kepulauan tersebut memiliki kabupaten yang bernama Kabupaten Aceh Singkil.
  • Suku Julu, suku ini masih termasuk dalam bagian Suku pakpak boang dan suku ini berasal dari Sumatera Utara. Suku ini sebenarnya adalah penduduk asli Aceh singkil daratan dan Subulussalam.
  • Suku Devayan, suku yang mendiami Pulau Simeulue, dimana pulau ini terbagi menjadi 5 kecamatan yaitu Kecamatan Teupah barat, Teupah Selatan, Salang, Simeulue Timur dan Simeulue Tengah.
  • Suku Singulai, penduduknya menempati Kecamatan Simeulue Barat, Kecamatan Alafan, sebagian Kecamatan Salang, Kecamatan Teluk Dalam, dan Kecamatan Simeulue Tengah.
  • Suku Aneuk atau lebih lengkapnya Aneuk Jamee, memiliki bahasa sehari-hari bahasa Aneuk Jamee yang mirip seperti bahasa minang bila didengar. Penduduk suku ini menempati wilayah Kabupaten Aceh Selatan, yaitu di Kecamatan Labuhan Haji, Kecamatan Tapaktuan, Kecamatan Samadua, Kecamatan Kluet Utara, dan sebagian wilayah Aceh Barat Daya yaitu meliputi Kecamatan Susoh dan kecamatan Manggeng, dan beberapa lagi ada di wilayah Kabupaten Aceh Barat, meliputi Kecamatan Meureubo dan sebagian lagi  ada di wilayah Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Simeulue dan Kota Subulussalam.

Mengenal Seni dan Budaya Aceh

 sumber gambar by Basri Marzuki on flickr.com

Kebudayaan juga sangat melekat erat dengan masyarakat di sana. Setiap harinya mereka selalu menggunakan bahasa yang khas yaitu bahasa Aceh, dengan pengucapan gaya yang khas. 

Misalkan saja suku Alas, suku Alas ini dengan jumlahnya 154 ribu penduduk. Merupakan suku asli dari penduduk Suku Alas yang Kabupaten Aceh Tenggara.
 
Sebagian besar orang Alas hidup di desa dan hidup dari bertani dan memelihara ternak. Daerah Alas dianggap sebagai lumbung padi (beras gudang) dari daerah Aceh. 

Produk pertanian lainnya termasuk karet, kopi, dan kemiri (bumbu lokal) serta hasil hutan lainnya seperti kayu, rotan, damar, dan dupa. Lingkungan atau desa Alas disebut Kute.
 
Satu Kute biasanya terdiri dari satu atau lebih marga yang disebut merge. Keluarga besar akan hidup dalam satu rumah dan tunduk kepada otoritas orang tua. Mereka adalah masyarakat patrilineal, yang berarti mereka mengukur keturunan melalui keluarga ayah.
 
Budaya mereka menekankan dua jenis hukum. Tipe pertama terdiri dari hukum agama yang diberikan oleh Allah dan tidak dapat diubah. Tipe kedua terdiri dari hukum adat, yang mencakup aturan yang telah dibuat oleh para pemimpin masyarakat dan dapat berubah sesuai dengan waktu.
 
Menyesuaikan diri dengan adat pernikahan, pertunangan berlangsung dari satu sampai tiga tahun karena kebutuhan manusia yang harus mengusahakan mahar, dan wanita dengan harga pengantin pria. 

Ketika orang Alas menikah, mereka tinggal di dekat keluarga suami. Setelah mereka punya anak, keluarga muda biasanya akan bergerak dan hidup secara terpisah (jawe) dari orang tua tapi tinggal di daerah yang sama dan komunitas penggabungan.
 
Pernikahan poligami dibolehkan jika pernikahan itu telah menghasilkan anak laki-laki saja, perempuan saja, atau tidak punya anak sama sekali (adak meu keu dueu). Umumnya, orang Alas adalah pengikut Islam, tapi mereka masih mencari bantuan seorang dukun (dukun / tabib / okultis).
 
Mereka melakukan upacara sehingga tanaman mereka akan makmur dan dilindungi dari wabah. Dukun membaca mantra dan menggunakan ramuan ajaib dari daun dan bunga yang dianggap ampuh untuk menangkal malapetaka.
 
Adapun terkait kesenian yang paling khas adalah Dabol dan Sama Gayo. Keduanya memiliki persamaan yaitu dimainkan oleh beberapa orang. 

Bedanya adalah, untuk Dabol dipimpin oleh seseorang yang disebut khalifah dan diiringi irama gendang, sedangkan Sama Gayo biasanya dimainkan oleh laki-laki dan cenderung berbau kesenian, seperti seni tari dan suara.
 
Pengetahuan yang mereka miliki berasal dari orang tua adat, dukun dan keujuren, pengetahuan tersebut tentang hewan, tumbuhan, bagian-bagian tubuh manusia, gejala alam dan waktu. Sebagian penduduknya memeluk agama Islam, sehingga tidak mempercayai adanya dewa-dewa.

Kejayaan Aceh dan Saat Keruntuhannya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam kekayaan alam dan kekayaan budaya. Salah satunya adalah wilayah Aceh, sekarang lebih dikenal dengan Nanggroe Aceh Darussalam. Aceh memiliki sejarah yang sangat kompleks dalam perjalanan pembentukan negara Republik Indonesia (RI).
 
Sebelum RI terbentuk, Aceh merupakan negara yang sangat kaya, yaitu pada zaman kekuasaan Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam pada abad ke-16. Pada masa itu,  Aceh telah memiliki hubungan dagang dengan dunia barat, termasuk Inggris, Ottoman, dan Belanda.
 
Banyak negara barat yang ingin menguasai Aceh karena tergiur dengan kekayaan dan kemakmurannya. Oleh karena itu, sejak awal abad-16, Aceh selalu berkonflik dalam perebutan kekuasaan dengan negara-negara barat, diantaranya Portugal, Britania Raya (Inggris), dan Belanda. 

Akhirnya wilayah Kedah dan Pulau Pinang di Semenanjung Melayu diserahkan Aceh kepada Britania Raya sekitar akhir abad ke-18.

1. Kesultanan Aceh
 
Kesultanan Aceh merupakan lanjutan dari Kesultanan Samudra Pasai yang runtuh pada abad ke-14. Ibu kota kesultanan Aceh berada di Kutaraja atau sekarang dikenal dengan Banda Aceh. 

Kesultanan Aceh telah mengukir sejarah yang megah pada masa lampau terutama karena kemampuannya dalam mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, perjuangannya dalam mengusir penjajahan dan imperialisme bangsa Eropa di tanah Aceh, sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik, pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan yang berkembang pesat, dan kemampuannya menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain.
 
Tahun 1873, Belanda menyatakan perang dengan Aceh sehingga pecahlah Perang Aceh. Awalnya, Belanda melancarkan ancaman diplomatik, tetapi tidak berhasil. 

Kesultanan Aceh melakukan perlawanan kepada Belanda sehingga mereka gagal merebut wilayah ini. Perang kembali pecah tahun 1887, tetapi tetap gagal karena mendapat perlawanan gigih. Tahun 1892 dan 1893, Belanda dianggap telah gagal merebut Aceh.

2. Keruntuhan Aceh
 
Kemudian, Belanda mengutus seorang ahli untuk mempelajari Aceh. Dia bernama Dr.Christiaan Snouck Hurgronje. Snouck Hurgronje berpura-pura masuk Islam. Dia berhasil mendapatkan kepercayaan dari para pemimpin Aceh.
 
Dia pun memberikan saran kepada Belanda untuk mengarahkan serangan kepada para ulama karena kekuatan Aceh terletak pada para ulamanya. 

Saran ini berhasil. Belanda berhasil menguasai Aceh dengan diangkatnya Johannes Benedictus van Heutsz sebagai gubernur Aceh tahun 1898 dan merebut sebagian besar wilayah Aceh. 

Tahun 1903, Sultan M Dawud menyerahkan diri kepada Belanda setelah anak beserta ibunya ditangkap oleh Belanda. Tahun 1904, hampir seluruh wilayah Aceh jatuh ke tangan Belanda.

Demikianlah informasi Sekilas Tentang Aceh - Kejayaan dan Saat Keruntuhannya. Semoga bermanfaat.

Mas Pujakusuma
Mas Pujakusuma "Visi Tanpa Eksekusi Adalah Halusinasi" - Thomas Alva Edison

Posting Komentar untuk "Sekilas Tentang Aceh - Kejayaan dan Saat Keruntuhannya"