Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal dan Mempelajari tentang Suku Boti di Nusa Tenggara Timur

 

 sumber gambar by pamsimas on flickr.com

Provinsi Nusa Tenggara Timur, menyisakan banyak kenangan yang pahit akan terpisahnya dua saudara dikarenakan keyakinan nasionalismenya.

Antara Timor dan Nusa Tenggara adalah satu rumpun dan saudara, namun perang dan penjajahan memisahkan, bagaikan negara Korea.
 
Tapi perhatikanlah, di tengah luka itu, hiduplah Suku Boti di pedalaman Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Suku ini bermukim di perkampungan Boti, Kecamatan Kie.
 
Sebagian orang Boti masih menganut agama asli yang disebut Uis Neno Ma Uis Pah, dewa langit dan bumi. 

Sementara itu, bagi mereka yang berada di lingkaran Boti Luar menganut agama Kristen Protestan dan ada pula yang meyakini agama Katolik, ini sama dengan keadaan suku Badui di Jawa Barat.

Permukiman Masyarakat Boti

Suku Boti merupakan salah satu suku bangsa yang berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan catatan sejarah yang ada, Suku Boti termasuk suku tertua yang ada di Nusa Tenggara Timur. 

Masyarakat Boti hidup di pedalaman. Bahkan, wilayah pemukiman masyarakat Boti bisa dikatakan lumayan terpencil dari daerah lainnya.
 
Untuk mencapai pemukiman masyarakat Boti, diperlukan waktu 2 jam. Wilayah tersebut berjarak 40 km dari Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Di perkampungan Suku Boti terdiri atas 77 keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 316 orang.
 
Suku Boti hidup di lembah Boti. Lembah Boti terletak di Desa Boti, Kecamatan Ki’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Masyarakat Boti sebagian besar tinggal di Lopo. Lopo merupakan rumah adat dari masyarakat Boti.

Kepercayaan Masyarakat Boti

Kehidupan masyarakat Boti memang penuh dengan keunikan. Keunikan lainnya lagi adalah masyarakat Boti masih menganut agama kepercayaan Halaika. 

Masyarakat Boti belum ada yang memeluk agama Islam maupun Kristen. Dalam kehidupannya, masyarakat Boti hanya percaya pada dua penguasa alam, yaitu Uis Pah dan Uis Neno.
 
Uis Pah adalah ibu yang mengatur, menjaga, dan mengawasi kehidupan alam semesta beserta isinya, termasuk manusia. Sementara itu, Uis Neno adalah ayah yang menguasai alam baka, sehingga bisa menentukan nasib seseorang berdasarkan perbuatannya di dunia.
 
Apabila ada warga Boti yang melanggar dengan memeluk salah satu agama, akan dikenai hukuman. Bahkan, warga yang melanggar akan dikeluarkan dari komunitas Boti. 

Hal ini dialami oleh Laka Benu, tidak lain adalah kakak dari Raja Osif Namah Benu. Laka Benu seharusnya menjadi putra mahkota harus keluar dari Suku Boti, karena memeluk agama Kristen.
 
Hukuman juga akan diberikan kepada masyarakat Boti yang melakukan pelanggaran hukum, seperti mencuri. Sanksi yang diberikan berdasarkan dengan keputusan bersama masyarakat Boti. 

Mungkin saja hukuman yang diberikan adalah perintah untuk memelihara tanaman atau ternak, sampai hasilnya bisa dinikmati oleh seluruh warga.

Kehidupan Sosial

Dalam kehidupan, masyarakat Boti mempunyai seorang pemimpin atau ketua adat yang disebut dengan Raja. Raja Suku Boti adalah Osif Namah Benu. 

Sang raja, bukan hanya berperan sebagai pemimpin dari anggota suku, melainkan sebagai pemersatu. Bahkan, tempat tinggal sang raja sering digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil karya dari masyarakat Boti.
 
Dalam kehidupan masyarakat Boti, terdapat pembagian tugas yang jelas antara kaum wanita dan laki-laki. Berdasarkan tradisi, para lelaki bertugas untuk mengurusi permasalahan di luar rumah, seperti berburu dan berkebun. Sementara itu, kaum wanita memperoleh tugas untuk segala hal yang berkaitan dengan urusan rumah tangga.

Uniknya Tradisi Suku Boti

 

sumber gambar by pamsimas on flickr.com

Suku tertua di Nusa Tenggara Timur ini memiliki beberapa tradisi yang bisa dibilang cukup unik. Salah satunya adalah tradisi penyambutan tamu dengan tarian yang diiringi tabuhan tufu. 

Tufu adalah sebutan masyarakat Boti untuk alat musik gendang. Selain itu tamu  juga disuguhkan daun sirih untuk dinikmati bersama.
 
Disamping dalam hal penyambutan tamu, masyarakat Boti juga memiliki keunikan lain, yaitu tradisi tidak diperbolehkan memotong rambut. Tradisi ini bukan hanya berlaku untuk perempuan, melainkan juga laki-laki. 

Tidak heran, jika semua masyarakat Boti menggulungkan rambut di belakang kepala mereka. gulungan rambut tersebut terlihat mirip konde.
 
Tradisi dilarang memotong ini telah dilakukan masyarakat Boti sejak lama. Prosesi ini dilakukan semata-mata sebagai penghargaan terhadap rambut.
 
Kebiasaan unik lainnya dalam kehidupan masyarakat Boti adalah tidak menggunakan alas kaki. Meskipun tempat tinggal masyarakat Boti termasuk daerah terpencil, tapi perkampungannya cukup bersih. Bersih yang dimaksud disini bukan hanya bersih dari sampah, melainkan juga kotoran hewan.
 
Bila dilihat dari kebudayaannya, masyarakat Boi mempunyai ciri khas dari tariannya. Tarian khas dari masyarakat Boti adalah tarian perang. Tarian perang masyarakat Boti memiliki gerak yang indah dan unik.
 
Keunikan lainnya adalah masyarakat Boti juga memegang teguh prinsip monogami atau beristri satu dalam pernikahan warganya. Apabila ada warga yang melanggar, akan dikenakan sanksi atau hukuman sesuai dengan aturan adat yang berlaku.
 
Selain itu, keunikan juga terlihat dari busana yang dikenakan. Penduduk Boti pada umumnya mengenakan pakaian tradisional dalam kesehariannya. Pakaian tradisional tersebut berupa kain sarung tenun ikat. Kain tersebut diikatkan pada bagian pinggang.
 
Para pria dari suku ini terbiasa membawa tas kecil yang terbuat dari anyaman daun lontar. Isi tas kecil tersebut adalah sirih pinang, kapur, dan tembakau. Selain itu, kaum lelaki juga menggunakan ikat pinggang yang terbuat dari tali. 

Pada bagan tali tersebut dipakai untuk menggantungkan parang yang dilapisi kayu. Parang tersebut berguna sebagai alat senjata tradisional untuk menjaga keselamatan diri mereka.

Makanan Masyarakat Boti

Makanan utama dari masyarakat Boti adalah pepaya, ubi, dan jagung. Memang masyarakat Boti jarang memakan nasi, walaupun nasi termasuk makanan kesukaan mereka. Dalam kegiatan memasak, masyarakat Boti tidak pernah menggunakan penyedap rasa, kecuali garam dan gula.

Perubahan Kehidupan Masyarakat Boti

Konon pada zaman dulu, ada penjaga pintu yang berdiri sepanjang hari di gerbang perkampungan masyarakat Boti. Namun kini, hal itu sudah tidak dilakukan lagi. 

Setiap tamu yang datang pun tidak disuguhi lagi dengan siring pinang atau tembakau, seperti masa silam. Masyarakat Boti sekarang tampaknya semakin gencar melakukan perubahan sesuai dengan perkembangan zaman.
 
Salah satu persoalan yang kini dihadapi masyarakat Boti adalah pendidikan. Generasi muda Boti tidak bisa mendapatkan pendidikan SMP atau lebih tinggi lagi. Sekolah dasar banyak yang hanya sampai kelas 3. 

Hal ini dikarenakan, sekolah di lingkungan Boti selalu menuntut adanya surat baptis bagi setiap murid. Surat baptis tersebut berguna sebagai penanda bahwa dirinya menganut agama Kristen.
 
Padahal dalam kenyataannya, banyak masyarakat Boti yang mempunyai cita-cita menjadi dokter, guru, bahkan pejabat pemerintahan. Namun sayangnya, pendidikan yang diterima generasi muda Suku Boti tidak mendukung cita-cita tersebut.
 
Mereka yang mempunyai cita-cita tinggi mau tidak mau harus merantau ke wilayah lain untuk mendapatkan bekal pengetahuan dan ilmu yang cukup. Apalagi dalam hal kebijakan pendidikan yang selalu mengalami perubahan, bergantung dengan kebijaksanaan Kepala SD setempat.
 
Hampir semua anggota masyarakat Boti kini sudah bisa berbahasa Indonesia. Meskipun belum bisa sempurna seperti anggota Suku Boti luar. Namun, masyarakat Boti dalam bisa menjawab pertanyaan para tamu dengan baik menggunakan bahasa Indonesia.
 
Kalau tradisi zaman dahulu, para tamu yang datang selalu disuguhkan dengan daun sirih, kini sudah berbeda. Siapapun yang datang ke permukiman Boti, kini disuguhkan dengan makanan khas masyarakat setempat. 

Makanan khas dari Suku Boti adalah pisang rebus dan singkong rebus. Sementara itu, untuk minumannya biasanya disuguhkan kopi atau teh.
 
Nah, sekarang sudah tahu kan keunikan dari Suku Boti. Meski kediamannya di pedalaman, tapi seiring berjalannya waktu bisa mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern.
 
Demikianlah artikel seputar Suku Boti. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Mas Pujakusuma
Mas Pujakusuma "Visi Tanpa Eksekusi Adalah Halusinasi" - Thomas Alva Edison

Posting Komentar untuk "Mengenal dan Mempelajari tentang Suku Boti di Nusa Tenggara Timur "