Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar Arti hidup dari Budaya Wayang Golek

 image by micro.cosmic on flickr.com

Secara kasat mata antara wayang golek dan wayang kulit memang terlihat sangat berbeda. Wayang golek terbuat dari kayu, mirip seperti boneka sedangkan wayang kulit terbuat dari kulit.

Alasan kenapa disebut wayang golek karena wayang ini tidak terbuat dari kulit, melainkan dari kayu sehingga pada masa dahulu kayu dianggap suatu hal yang dapat dicari di hutan. Kemudian disebutlah wayang golek.

Sejarah Wayang Golek

Wayang golek merupakan perkembangan dari wayang kulit. Wayang golek pertama kali di perkenalkan kepada masyarakat adalah pada tahun 1583 masehi yakni di Kudus.

Dalam hal ini Dalem Karang Anyar atau yang kita kenal sebagai Wiranata Koesoemah III merupakan salah seorang yang turut serta memprakarsai kelahiran wayang golek tersebut.

Pertunjukan wayang kulit bersumber pada sebuah cerita Ramayana dan Mahabarata, tentu saja hal ini ada alasannya. Tidak berarti semuanya terjadi tanpa alasan. Ini ada hubungannya dengan penyebaran agama Islam di Indonesia.

Saat itu agama Hindu dan Budha merupakan agama mayoritas yang dianut oleh sebagian besar masyarakat. Dan wayang adalah salah satu bentuk dari usaha untuk menyebarkan agama Islam. Karena, budaya, dalam hal ini wayang, memiliki kedekatan emosional yang lebih dengan masyarakat.

Di tanah Pasundan misalnya, ada pertunjukan seni wayang golek purwa yang bersumber dari serat pustaka Raja Purwa yang ditulis oleh R. Ng. Ranggawarsito yang merupakan salah satu tokoh di masa lalu. Salah satu keberhasilan Ranggawarsito adalah keberhasilannya dalam mengakultarikan budaya India menjadi kebudayaan asli Indonesia.

Salah satu bentuk budaya di sini bisa dilihat dari budaya tradisi potong tumpeng. Potong tumpeng juga memiliki makna filosofis. Bentuk tumpung adalah gunungan, gunungan ini mengacu pada masa zaman prasejarah (anemisme), sebelum Hindu dan Budha masuk ke Indonesia.

Dari Hindu dan Budha baru Islam masuk dan meleburkan kebudayaan anemisme, Hindu dan Budha menjadi satu, salah satunya lewat cerita wayang yang disajikan itu.

Di masa dahulu, segitiga melambangkan gunung. Gunung dipercaya sebagai kekuatan terbesar karena buatan dari Tuhan, sehingga gunung dianggap sebagai lokasi tersakral. Itulah kenapa banyak para wali masih menjadikan gunung sebagai tempat pertapaan yang sakti, bukti dari akulturasi dari masa praseajrah.

Berkembangnya Budaya Wayang Golek

Jawa Barat adalah lokasi wayang golek berkembang. Daerah-daerah di sekitarnya seperti Cirebon bagian timur sampai Banten bagian barat dan Jawa Tengah juga sering mempertunjukkan seni wayang golek. Itulah kenapa di paragraf di atas disebut-sebut Kudus juga berperan penting dalam perkembangan wayang golek.

Abad ke-19, budaya wayang golek mulai diperkenalkan di kawasan Priangan. Sejak jalan raya Deandels yang menghubungkan kawasan pantai dan Priangan, hasil kerja paksa selesai dikerjakan saat itulah wayang golek mulai diperkenalkan.

Awalnya bahasa yang disampaikan menggunakan bahasa Jawa. Seiring berkembangnya waktu, banyak masyarakat Sunda yang belajar dan pintar mendalang.

Penyebaran Islam

Wali Songo adalah salah satu yang menyebarkan Islam menggunakan media wayang. Bisa wayang kulit maupun wayang golek. Tidak masalah wayang apa, tujuan utama sebenarnya adalah memperkenalkan Islam lewat pertunjukan seni wayang.

Kuatnya agama pada waktu itu cukup membuat kesulitan para wali memperkenalkan agama Islam. Mereka juga terlalu kuat dengan kepercayaan pada waktu itu. Menggunakan cara terang-terangan sangat sulit. Itulah akhirnya pertunjukan wayang menjadi satu media memperkenalkan secara perlahan-perlahan.

Pemerintahan Sultan Agung pada 1601-1635 Jawa Barat di bawah pemerintahan Raja Mataram, kemudian bangsawan Sunda masuk ke Mataram dalam rangka belajar bahasa jawa demi kepentingan pemerintahan. Nah, di saat itulah mereka mengenal kesenian wayang.

Di luar dugaan, wayang semakin banyak disukai pada masa itu. Alasan klasiknya adalah, bahasa yang disampaikan dalam pewayangan bisa disampaikan menggunakan bahasa daerah masing-masing.

Budaya wayang golek pada awalnya hanya bisa dinikmati oleh orang-orang tertentu. Hanya mereka yang bangsawan-bangsawan. Menariknya, dahulu wayang hanya dipertontonkan untuk lingkungan Istana dan kabupaten saja. Seiring berkembangnya waktu kesenian ini dapat dinikmati oleh siapa saja dan di mana saja, orang umum boleh menontonnya.

Pertunjukan wayang sebagai tuntunan dan tontonan, itulah tujuan awalnya. Maksud dari memberikan tuntunan adalah, memberikan pendidikan, pembelajaran dan memberantas ketidaktahuan/kebodohan, sedangkan tontonan adalah pertunjukan itu sendiri.

Di dalam tuntunan ada yang namanya isi, isi di sini lebih pada proses penggarapan rohani atau lebih pada bentuk pesan moral yang ingin disampaikan kepada penonton. Seiring berkembangnya, wayang golek pun mengalami perubahan. Salah satunya adalah hadirnya sinden.

Tujuan awal adalah untuk menarik khalayak ramai. Seiring berkembangnya waktu nilainya sedikit bergeser. Jadi orang-orang lebih tertarik dengan sindennya dibandingkan inti pokoknya yaitu pertunjukan wayangnya.

Nilai Budaya & Filosofi Wayang

 

 image by Ross Thomson on flickr.com

Wayang memiliki nilai-nilai, salah satunya adalah nilai budaya. Nilai budaya tersebut memiliki kemampuan untuk menjaga nilai kesenian itu sendiri. Ada beberapa hal yang nilai budaya yang sudah dituangkan dalam Sapta Sila Kehormatan Seniman Seniwati Pedalangan.

Beberapa isi di dalamnya antara lain mampu mendidik masyarakat, sebagai pencerah atau juru penerang, sosial, berpendirian dan setiawan.

Jika kita berbicara tentang tokoh yang ada dalam wayang, maka kita akan mengenal Pandawa Lima, yaitu Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Berkat kepiawain tokoh para wali, kelima tokoh ini dibuatkan makna filosofis tersendiri.

Yudhistira difilosofikan sebagai otak manusia. Yudhistira adalah anak tertua dari lima saudaranya, ia memiliki sifat yang bijaksana, pemaaf dan memiliki moral yang sangat tinggi. 

Di dalam filosofinya terkandung pesan bahwa apabila ingin menjadi orang yang hidupnya mulia, pergunakan otak secara bijaksana, tidak mengumbar ambisi tetapi mengutamakan strategi untuk meraih kemuliaan hidup di dunia.

Tokoh Bima atau yang disebut sebagai bayusutha, jelmaan dari Dewa Bayu. Bima difilosofikan sebagai mata, barang siapa marah, maka matanya akan melotot, dan orang-orang takut dengan sorotan kemarahan itu.

Janaka diibaratkan sebagai hati nurani. Dewa Indra adalah jelmaannya. Filosofi Janaka sebagai hati nurani yang sering melakukan pertapaan kepada sang Pencipta. Barangsiapa yang sering mendengarkan hati kecil ia akan mendekatkan kepada Tuhan.

Hakekatnya, manusia itu memiliki dua hati, yakni hati besar dan hati kecil. Hati besar manusia selalu dipenuhi dengan nafsu, iri, dengki dan juga ambisi, sedangkan hati kecil manusia lebih bersifat mengajak pada hal-hal yang bersifat kebaikan. 

Jika mengamati diri sendiri, hampir setiap hari, hati manusia selalu berperang dengan hati besar dan hati kecilnya. Nah, dalam perwayangan, Kurawalah yang menguasai hati besar, sedangkan Arjuna yang menguasai hati kecil. Terakhir adalah Nakula dan Sadewa. Sifat mereka adalah melayani dan bijaksana.

Jadi kesimpulan dari pertunjukan wayang golek maupun wayang-wayang yang lain adalah budaya wayang golek ini ingin memberikan pelajaran dan pencerahan kepada penikmatnya. Bahwa segala sesuatu, di dalam peperangan dan di dalam menghadapi kehidupan sehari-hari itu semua bergantung dari diri sendiri.

Apakah lebih mengandalkan hati besar atau hati kecil?! Semoga tulisan ini bermanfaat dan memberikan banyak pelajaran.

Mas Pujakusuma
Mas Pujakusuma "Visi Tanpa Eksekusi Adalah Halusinasi" - Thomas Alva Edison

Posting Komentar untuk "Belajar Arti hidup dari Budaya Wayang Golek"